Doa – Rabindranath Tagore

Doa

Memberkati hati kecil ini, jiwa putih ini

telah memenangkan ciuman surga bagi bumi kita.
Dia mencintai cahaya matahari, dia mencintai

dan melihatnya wajah ibu.
Dia tidak belajar untuk membenci debu,

dan berminat setelah emas.
Genggam dia untuk jantungmu

dan memberkatinya.
Dia telah datang ke negeri ini

menempuh seratus jalan lintas.

Aku tidak tahu bagaimana dia memilihmu

dari orang-orang yang datang ke pintumu,

dan memegang tanganmu

demi meminta jalan.

Ia akan mengikutimu, tertawa dan berbicara,

dan tak ada keraguan dalam hatinya.
Jauhkan kepercayaannya, memimpin lurus

dan memberkatinya. Meletakkan tangannya

di kepalanya, dan berdoa

bahwa meskipun gelombang di bawah mengancam,

namun napas dari atas dapat datang

dan mengisi layar, dan menghembusnya

ke surga perdamaian. Lupakan dia jika kau tidak tergesa,

dan biarkan dia datang ke hati

dan memberkati.

Izinkan

Izinkan aku berdoa bukan agar terhindar

dari bahaya, melainkan agar aku

tiada takut menghadapinya.
Izinkan aku memohon bukan agar
penderitaanku hilang melainkan agar hatiku
teguh menghadapinya,
Izinkan aku tidak mencari sekutu

dalam medan perjuangan hidupku

melainkan memperoleh kekuatanku sendiri.
Izinkan aku tidak mengidamkan

dalam ketakutan dan kegelisahan

untuk diselamatkan, melainkan harapan

dan kesabaran untuk memenangkan

kebebasanku.  Berkati aku, sehingga aku

tidak menjadi pengecut

dengan merasakan kemurahan-Mu

dalam keberhasilanku semata,

melainkan biarkan aku menemukan

genggaman tangan-Mu dalam kegagalanku.


Iklan

Kemerdekaan Kami, Kemerdekaan Semu

Gambar

 

 

Kemerdekaan Kami, Kemerdekaan Semu

 Kemedekaan kami bukan kemerdekaan kami

Bukan hendak menolak, kemerdekaan kami semu belaka

Kemerdekaan kami, penjaraakan kami.

Kemerdekaan kami menjauhkan kami dari tanah kami sendiri..

 

Siapa yang ingin di penjara di negeri sendiri?

Siapa yang mau hak-haknya di cerabut?

 

Jangan tipu kami dengan dalil demokratisasi, globalisasi dan lainnya

Kami cuma butuh sesuap nasi untuk perut kami dan anak-anak kami

Kami cuma butuh sedikit uang untuk membangun dapur yang sudah lama kami rencanakan

Kami cuma ingin membeli baju anak-anak kami yang sekian tahun tak pernah merasakan baju baru..

 

Kami benci eksploitasi, penindasan atau apapun namanya

Kami benci itu,

Seperti kami membenci diri kami yang tak berdaya di kuras tenaganya oleh

 mesin-mesin produksi kapitalis.

Tapi apa daya kami?

Kemerdekaan kami memasung kami.

 

oo..

Jangan terus menghamba, jangan terus bergantung,,

Kita negara berdaulat, kenapa meski takut??

 

Kemerdekaan kami, hanyalah rindu yang mengapung

Asa yang  masih melekat dalam dinding gubuk-gubuk kami.          

Mimpi yang belum kesampaian..

 Jumat, 2013 

Menjemput matahari.

Gambar

Hidup memang selalu menawarkan dua sisi kehidupan yang kelihatan saling bertolak belakang, seperti dua sisi mata uang yang saling memunggungi. Tangis bersebelahan dengan tawa, cinta bertetangga dengan benci, ada yang pergi ada yang datang, begitu seterusnya tanpa diminta. Tidak ada satu orangpun yang garis hidupnya hanya satu arah, misalkan senang selamanya. Senang adalah juga susah. Ibarat pelaut, ketangguhannya justru harus teruji ditengah badai. Tanpa itu hidup hanyalah menunda kekalahan hingga akhirnya kita menyerah dan mungkin kalah, demikian sajaknya chairil anwar.

Artinya, hidup ini harus dinamis. Harus terus bergerak agar menjadi seimbang. Diri yang statis adalah diri yang tak menyadari bahwa kelahirannya merupakan sebuah kemenangan. Iya, kemenangan spermatozoa yang mencapai dinding rahim dalam proses penyatuan.  Diri yang statis adalah diri yang melupakan asal kejadiannya, bahwa dirinya diciptakan oleh sang Maha Pencipta. Yang setiap saat dianugerahi waktu yang berlimpah, kesehatan yang memadai dstnya.

Orang yang hebat adalah orang yang segera bangkit setelah terjatuh. Bukan meratapi kejatuhannya, tapi bangkit menjemput matahari.

Y. Lamawulo

Untuk i ..

i..
tinggal asa yg tersimpan disini.
kutau, dukamu merah.
luka mu pun merah..

i.
maaf mungkin tak berarti lagi..
tapi ampuni aku, i..
sebelum Tuhan kita mengampuni aku..

#YLW