Emak

Beberapa malam belakangan ini, saya tak bisa tidur hingga sahur dan berlanjut ke subuh. Ini bukan karena insomnia, tapi karena saya harus menemani isteri saya yang harus menetek bayi kami yang biasa terbangun tengah malam. Sebenarnya saya bisa saja tidur, namun saya memilih untuk menemaninya. Meski hanya sekadar menyediakan bahu sebagai tempatnya bersandar dan sedikit senyum penyemangat untuk istri saya yang super mengantuk. Dalam kondisi seperti ini, saya jadi teringat emak saya, dan juga semua wanita yang telah bersusahpayah melahirkan dan membesarkan anak-anaknya tanpa pernah mengeluh.  Yang tentunya lebih dahulu merasakan situasi seperti ini.

Saya takjub dengan para wanita. Sekaligus ingin mengatakan bahwa peran seperti ini tidak bisa dikatakan sebagai nomor dua dalam konteks kehidupan. Wanita adalah nomor satu. Ini bukan karena kodratnya, tapi karena pilihannya. Sebab ada juga wanita yang memilih untuk meninggalkan bayinya disembarang tempat dengan tanpa tanggung jawab. 

Saya bersyukur dikarunia seorang emak yang dengan sabar membesarkan saya hingga saat ini. Dan isteri yang luar biasa yang rela melawan rasa sakit demi si buah hati kami. Memang benar bahwa manifestasi sifat kasih sayang Tuhan ada dan melekat pada setiap wanita.

Dan menjadi kewajiban kita untuk memperlakukan wanita sebagai patner secara seimbang, bukan sebagai nomor dua. Dan khusus untuk emak, akan kubaktikan hidupku untuk mu.

Semoga emak sehat selalu. 

  

Iklan

Tentangmu

Seharusnya kutuliskan beberapa baris kata untukmu, sebab aku sungguh ingin menuliskan tiap saat perkembanganmu yang kusaksikan.. Namun hanya sedikit keluh ini, sebab lebih mudah bagiku menatap senyummu daripada menjelaskannya.. Putriku, tak ada yang lebih berarti selain dirimu. Dan rinduku menanti saat engkau memanggilku “ayah”.

Nahkoda

Nakhoda
di pundakmu terlabuh asa.
asa kamu, kami dan mereka.
gagah bak perwira.
Kelasimu seharusnya memandangmu.
Armada menatap kosong. Dermaga yg penuh biduk biduk.
Kapal ini seakan diam. Meski pelabuhan telah di pelupuk mata.
Sauh menyelami karang.
Melilitkan talinya. Dan enggan meregang.
Tapi, Nakhodaku. Masih bersetubuh dg BRA angka angka.
Hingga melahirkan janin koin dan kertas. Lalu gurita diundangnya. Ubur ubur dan hiu. Berpesta pora. Menelan janin lalu memuntahkan sendawa.
Tertawa dan terbahak. Tanpa disadari. Ada arus yg akan menghanyutkan. Ada ombak yg akan mengkaramkan. Di buritan kapal. Terisak. Dan terbisik.
Lajukan. Siapkan.
Nakhodaku. Ada asa terlabuh di pundakmu.

Inginku

Inginku.
Kirimkan puisi.
Puisi manis.
Berlapis lapis.
Untuk kamu. Yah. Si putri manis.

Sadarku.
Kataku habis.
Satu persatu baranjak.
Saat pelipis.
Melirikmu mendekat.

Sagala puji tersusun rapih.
Hendak gambarkan ayumu.
Lagi lagi.
Anggunmu pesonakan pujianku.
Hingga terkapar tak berdaya.

Mataku melihat.
Matamu terlihat.
Ucapku melekat.
Hanya satu dua kata terucap.
Nice to meet you. Tapi tetap sedap.

#kawimount