Selepas Tarwih


Biasanya selepas tarwih, saya melewatkan malam dengan mengikuti tadarrus di masjid, kadang ikut membaca quran atau hanya sekedar ngobrol bersama teman-teman diemperan masjid. Sebuah tradisi yang tak pernah hilang di masjid kami selepas tadarrus adalah selalu dihidangkan berbagai penganan sederhana yang disuguhkan bersama segelas kopi atau teh oleh ibu-ibu majelis taklim. Sebuah jalinan keakraban yang tak pernah lekang oleh pengaruh segelas kopi, meski harganya di pasar kian hari kian melambung.
Tapi alhamdulillah, malam ini bersama teman-Teman kami ditemani juga oleh seorang guru. Ia adalah mantan guru agama saya saat SD dulu.
Berbagai ceritapun dimulai. Lebih tepatnya adalah diskusi. Karena tak ingin tiap informasi yang disampaikan terlupakan begitu saja, maka saya mencatatnya..πŸ˜€πŸ˜€
Tema diskusi malam ini beragam. Yang pertama sekali mengenai ilmu. Dimulai dengan tafsir sederhana atas surat Al Alaq yang berisi perintah membaca. Bacalah, dengan menyebut nama TuhanMu. Ia menyitir sebuah pendapat yang sungguh luar biasa, yakni pendapatnya muhammad abduh. Menurut Muhammad Abduh, perintah membaca dalam surat ini menjadi isyarat agar kita menjadi pembaca yang mahir. Pembaca yang hendaknya selalu melihat tanda-tanda kebesaran Allah secara kauliyah maupun kauniyah. Perintah membaca ini sungguh kontekstual dengan kondisi zaman saat ini yang sesungguhnya jauh dari perintah tersebut. Sebagai contoh, karena kurangnya membaca, kita kadang membenarkan sebuah pendapat ataupun menyalahkan sebuah pendapat bukan karena kita memahaminya, tapi karena faktor kedekatan emosional, kesamaan suku dan ras, maupun kesamaan ideologis. Selain itu, kita kadang tampil sebagai pribadi yang senang mencela, menghardik, bahkan “membunuh”. Tanpa kita sadar bahwa kasih sayang adalah rahmat yang dititip Tuhan pada kita, agar kita senantiasa berlaku welas asih, mencintai sesama tanpa memandang siapa dia, darimana ia berasal, dan apa agamanya.

Diskusi kamipun tetap mengalir, tetap dengan segelas kopi sebagai teman malam yang paling setia..πŸ˜ƒπŸ˜ƒπŸ˜ƒ
Tentang ilmu sebenarnya masih banyak, tapi yang bisa kutangkap dan kucatat kembali hanya sedikit ini.
Selanjutnya adalah tentang Iman. Tafsir atas kalimat Lailahaillaulah. Yang menurut beliau, bahwa kesaksian akan adanya Allah haruslah selaras dengan pengenalan diri dan alam sekitarnya. Lanjut lagi bahwa prinsip tauhid yang terdiri dari prinsip Negasi dan Affirmasi, sejatinya haruslah terejawantahkan dalam perilaku keseharian kita. Prinsip Negasi yang dalam pengertian sederhana berarti penolakan terhadap setiap bentuk Penuhanan pada tuhan-tuhan kecil mestinya melebur dalam aktifitas keseharian kita. Semisal penghambaan kita terhadap materi yang kadang menjerumuskan kita pada hal-hal tak patut, seperti menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuannya. Prinsip affirmasi mengandung arti penerimaan bahwa hanya Allahlah yang patut disembah, tempat kita bergantung sekaligus meminta pertolongan..

Pemahaman akan ilmu dan iman baginya akan melahirkan karakter kita sebagai manusia yang sadar akan kelemahan kita dihadapan Allah sekaligus menghadapkan kita pada posisi saling membutuhkan antara sesama manusia dan alam.

***
Sebagai penutup, terimakasih untuk ibu-ibu yang telah menyediakan kopi untuk kami malam ini..
πŸ˜€πŸ˜€πŸ˜€πŸ˜€πŸ˜€

Iklan

Penulis: sangsepi

πŸ‘‰πŸ‘‰ Saya, secangkir kopi dan kenangan. πŸ‘ˆπŸ‘ˆ

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s