Membangun Dari Desa, Apa dan Mengapa!! 


Pagi ini pas buka Wall fb, Ada teman yang upload foto sayembara menulis untuk NTT. Iseng-iseng ngetik dan jadilah catatan pendek dibawah dan langsung saya email ke panitia penyelenggara sayembara.. 🙏🙏​.. Maaf pak panitia, berantakan tulisannya.. 

Dalam diskursus politik pembangunan, wacana membangun dari desa tidak lagi menjadi barang baru. Hal ini ditandai dengan beragam program pemerintah yang mengalir kedesa yang berjalan setiap tahunnya. Seperti yang kita ketahui saat ini semisal Dana Desa yang ditransfer dari pusat langsung ke desa oleh Kementerian Desa. Namun menjadi pertanyaannya adalah, apakah desa-desa yang menjadi sasaran transfer dana desa atau program pemerintah lainnya telah mengalami transformasi menjadi desa mandiri atau minimal mendekati konsepsi tersebut? Entahlah, dalam pengamatan penulis, kenyataannya berbanding terbalik dengan apa yang diharapkan. 

Menilik kembali amanat UU No 6 tentang desa dan Permendes No 22 Tahun 2016 tentang Penetepan prioritas penggunaan Dana Desa 2017 serta aturan turunan lainnya, tujuan sesungguhnya dikucurkan dana desa adalah menjadi dana stimulun bagi masyarakat desa. Artinya bahwa, Dana Desa mesti menjadi dana perangsang bagi berkembangnya unit-unit usaha didesa.

Isyarat Undang-undang diatas menegaskan pentingnya pola pemberdayaan masyarakat desa secara berkelanjut dengan memanfaatkan besarnya nilai dana Desa. Hal ini dikarenakan selama ini penetapan prioritas penggunaan Dana Desa terkonsentrasi pada pembangunan fisik desa. Memang tidak salah ketika orientasi penggunaan dana desa ditujukan untuk  fisik semata. Namun menjadi catatan kritis adalah yang terlihat dari desa hanyalah cantik luarnya, tapi tak ada peningkatan besaran nilai pendapatan asli desa (PAD) yang termuat pada APBDes kecuali leges perkara dan pungutan kecil lainnya yang besarannya tak lebih dari satu juta rupiah. 
Apa Yang Mesti Kita Lakukan.

Dalam pikiran saya, pemberdayaan masyarakat desa menjadi hal yang mesti didahulukan. Ini bisa dimulai dengan membuat pelatihan-pelatihan teknis yang berkaitan dengan sumber potensi apa yang ada di desa. Tentunya, butuh sebuah pengkajian Desa dengan menggunakan matrix mengenal potensi dan masalah yang dihadapi masyarakat tersebut. Setelah mengenal potensi dan masalah, yang dibutuhkan adalah mendampingi masyarakat secara berkelanjut. Maksudnya adalah pendampingan harus dimulai dari perencanaan hingga evaluasi sebuah program. Ini membutuhkan kerja semua stakeholder yang berkepentingan. Dan tidak melulu mengharapkan kerja satu dua orang saja di Desa. Tapi yang paling penting adalah semua instansi terkait harus bisa bersinergi dalam menjawab semua kepentingan masyarakat desa. Datang, dan bicaralah dari hati ke hati bersama masyarakat desa pada saat dilaksanakan MUSRENBANGDes. 

Saya yakin, ketika semua pihak ambil bagian dalam mengurus desa, maka yang terjadi kemudian adalah Desa Maju, Negara Maju. Dan khusus untuk NTT, stigma bahwa kita miskin mesti kita tinggalkan. Kita tidak Miskin, Kita hanya belum bisa memaksimalkan potensi yang Tuhan titipkan pada alam dan diri kita.

Sekian..

Iklan

Penulis: sangsepi

👉👉 Saya, secangkir kopi dan kenangan. 👈👈

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s