Nahkoda

Nakhoda
di pundakmu terlabuh asa.
asa kamu, kami dan mereka.
gagah bak perwira.
Kelasimu seharusnya memandangmu.
Armada menatap kosong. Dermaga yg penuh biduk biduk.
Kapal ini seakan diam. Meski pelabuhan telah di pelupuk mata.
Sauh menyelami karang.
Melilitkan talinya. Dan enggan meregang.
Tapi, Nakhodaku. Masih bersetubuh dg BRA angka angka.
Hingga melahirkan janin koin dan kertas. Lalu gurita diundangnya. Ubur ubur dan hiu. Berpesta pora. Menelan janin lalu memuntahkan sendawa.
Tertawa dan terbahak. Tanpa disadari. Ada arus yg akan menghanyutkan. Ada ombak yg akan mengkaramkan. Di buritan kapal. Terisak. Dan terbisik.
Lajukan. Siapkan.
Nakhodaku. Ada asa terlabuh di pundakmu.

Iklan

Inginku

Inginku.
Kirimkan puisi.
Puisi manis.
Berlapis lapis.
Untuk kamu. Yah. Si putri manis.

Sadarku.
Kataku habis.
Satu persatu baranjak.
Saat pelipis.
Melirikmu mendekat.

Sagala puji tersusun rapih.
Hendak gambarkan ayumu.
Lagi lagi.
Anggunmu pesonakan pujianku.
Hingga terkapar tak berdaya.

Mataku melihat.
Matamu terlihat.
Ucapku melekat.
Hanya satu dua kata terucap.
Nice to meet you. Tapi tetap sedap.

#kawimount

Menjauh Satu Persatu

Menjauh Satu per satu

Kalau kulihat.
Langkah mereka.
Sepertinya menjauh.

Bukan jauh dalam jarak.
Bukan juga dalam hubungan.
Dalam upaya.
Yah…upaya mereka sudah semakin jauh.
Aku tertinggal.
Aku ditinggal.
Hinggal aku meninggal.

Mereka jauh.
Semakin menjauh.
Seperti rita yg smakin hilang bayangannya.
Saat mentari menua.

Semakin jauh.
Mereka satu persatu.

Di Kota Ini

Dikota ini,  tak ada pintu yang  bisa kau ketuk.  Semuanya enggan membuka. Kita sama tahu,  tak ada waktu untuk sekadar bersalaman. 

Kita pun sama-sama telah belajar.  Anda tak bisa mengandalkan siapapun selain dirimu sendiri..  Apalagi berharap. Kota telah mengubur setiap harap untuk berbagi, meski hanya sedikit pilu untuk didengarkan. 

Karena di sini.. Ditiap inci jalan yang kulewati,  yang kutemukan hanyalah bangkai-bangkai yang dulu kita sebut cinta, pertemanan,  persahabatan.

Dan di kota.. tak kau temukan lagi kata itu. Hanya disini.. Dikolom maya ini. kita masih sempat,  walau sekedar berbagi rindu. 

***

Makassar,  2017

L. Wulo.