Pada Mulanya Adalah Cinta

Pada Mulanya adalah Cinta.
Menjelma jadi kata maka Jadilah.

Lalu kenapa mesti ragu..?

Duhai pemilik segala Cinta
Alangkah rapuh tubuh purba ini
merangkak di lorong-lorong sepi
berharap seberkas cahaya menghampiri
Biar lepas segala cemas..

Pada Sujud-sujud Sunyi kusematkan kata;
Padamu Paduka, Hamba berserah.
Sebab waktu kian menghimpit. Dan tak terhitung noda membalut.

Jadilah, KataMu menjelma..
Cinta merasuki seluruh jiwa,
Lalu, dihadapanmu kuangkat sumpah,
Engkaulah Padukaku.
Dan hadirku membawa amanahmu.
Gunung, lautan, matahari, bulan dan bintang, semuanya menyerah tak berdaya.

Lalu kudengar engkau berkata, ” Engkau adalah sebaik-baiknya Ciptaan yang sebagianmu adalah sebagianKu”. Saatnya nanti, Kembalilah dengan Cinta,
Sebab,

Pada mulanya adalah Cinta,

Iklan

Sekedar Berbagi Rindu

Dengan apa hendak kusampaikan rindu ini padamu
sedang Engkau begitu dekat namun terasa sangat jauh..
Aku yang terkapar, dibius syahwat rindu: membara; pada elok parasmu, pada ranum bibirmu..

Disini, tiap detak jarum jam yang bersandar kokoh didinding serasa menikam kepalaku.
Seperti catatan yang dahulu, detaknya memberi isyarat,
Waktu mendahuluiku.. Sementara aku masih saja terpaku pada pada gambar yang sengaja kau pajang tahun-tahun kemarin..

Ah.. Sudah sekian hari kutunggu saat yang paling tepat. untuk apa? Ah, hanya sekedar menggenggam jemarimu, agar ritmis jiwaku melagu dalam satu syair bersamamu..
Namun kau seperti lupa, bahwa ada sesosok mahkluk yang mencintaimu dengan diam, dengan perih, karena rindu tak kesampai..
Sekali lagi, engkau telah melangkah jauh, meninggalkanku.. seperti detak jarum jam yang tak pernah mengerti, yang tak pernah mau kembali..

Disini, Sebaris Rinduku, mencoba berbagi denganmu..

**