Uang dan Matinya Demokrasi


Dalam perhelatan Politik, Uang menjadi bagian penting yang tak terhindarkan. Mulai dari besarnya Mahar yang harus disetor Kandidat pada partai pengusung hingga besarnya dana Operasional yang harus dimiliki untuk kelancaran kerja-kerja politik. Tanpa Uang segalanya hanyalah omong kosong belaka. Yang menjadi catatan kali ini adalah tentang matinya Demokrasi yang kita banggakan karena Uang. Mengapa demikian! Karena asas demokrasi Dari Rakyat, Oleh Rakyat dan Untuk Rakyat telah digantikan dengan asas baru yaitu Dari Uang, Oleh Uang, Dan Untuk Uang.

Realitas politik saat ini menggambarkan satu kondisi dimana dalam tiap perhelatan politik selalu saja ada orang atau lembaga yang siap mendanai para kandidat dengan Dana Besar. Pola investasi ini melahirkan arah politik yang tidak lagi demi kepentingan rakyat tapi untuk kepentingan pemodal.  Kondisi ini diperparah lagi dengan kerja-kerja politik yang dilakukan selama masa kampanye. Politik Uang adalah salah satunya. menjadi pertanyaan adalah apakah sebuah kemenangan yang berdasarkan Uang bisa dikatakan demokratis?? Bagaimanakah sosok pemimpin yang lahir dengan proses seperti ini?

Uang telah menggeserkan posisi wacana dalam perhelatan politik. Pemilih tak melihat bagaimana pentingnya visi missi yang dijabarkan tiap kandidat. yang ditunggu adalah kapan orang membagi-bagi uang. Uanglah yang dipilih. Uanglah yang memainkan peran penting perhelatan politik, bukan atas kehendak rakyat. Dan ironisnya, karena banyak uang yang di gelontorkan maka upaya menggantikan kembali uang yang dikeluarkan menjadi tak terhindarkan. Korupsi berjalan massif. dan ini membudaya, mengakarkuat dalam struktur politik kita.

Lalu, Dimanakah kepentingan rakyat?

 

 

Iklan

Penulis: sangsepi

👉👉 Saya, secangkir kopi dan kenangan. 👈👈

2 thoughts on “Uang dan Matinya Demokrasi”

  1. terimakasih pencerahannya mas erry. Memang benar apa yg dikemukakan Mas erry diatas, saya hanya tiba2 berpikir, melahirkan tulisan tanpa menganalisanya..
    Tapi ada satu hal yang menggangu saya, betapa uang telah menggantikan posisi wacana. Memang benar bahwa masih ada org, kelompok, LSM, Partai, yg menyuarakan anti politik uang, tapi disatu sisi, saya melihat ada kepentingan lebih besar yang berdiri dibelakang perhelatan politik sebagai pemodal. Dan akhirnya, segalanya berorientasi uang. Maksudnya yang dapat besar adalah pemodalnya. Saya lalu berspekulasi, mungkinkah demokrasi menjadi mati??
    Tapi komentar sampeyan telah mengingatkan saya, sekali lagi terima kasih.. Mari saling mengisi, saling bertukarpikir dan berbagi wacana..

    Suka

  2. saya punya beberapa catatan mas, tapi sebelumnya saya harus mengapresiasi bahwa tulisan sampeyan memang bagus dan kritis. saya suka ini !!
    catatan yang saya kemukakan berkaitan mengenai konsepsi demokrasi yang sampeyan maksud. dalam benak saya, matinya demokrasi itu bukan karena uang atau politik uang, namun ketika pilar-pilar demokrasi sudah tidak bisa lagi dijalankan secara efektif. pilar-pilar itu berkaitan dengan 1. kebebasan berpendapat, 2. pemilu setiap 5 tahun sekali, 3. kebebasan pers, 4. adanya trias politika (pembagian kekuasaan antara esekutif, yudikatif dan legislatif) dll. jika ke epat pilar itu ada salah satu atau dua yang tidak berjalan maka bisa dikatakan disitulah runtuh dan matinya demokrasi.
    Namun jika yang sedang menjadi konsen disini adalah politik uang, maka menurut saya bukan demokrasi yang mati, namun demokrasi dikotori oleh intrik politik uang. demokrasi belum mati karena masih ada mekanisme check and balance. mekanisme itu dilihat dari masih banyak kok yang peduli pada nasib rakyat, masih banyak kok pemilih yang mempertimbangkan pilihanya karena faktor rasional daripada uang (bisa saja ia mengambil uangnya namun ia tetap memilih paslon yang jujur dan bersih), KPK dan LSM yang bergerak dibidang pemberantasan korupsi atau pengawal pemilu juga masih giat mengkapanyekan penolakanpolitik uang. disinilah letak demokrasi mash hidup dimana ada individu, kelompok, partai maupun Civil SOciety yang masih menyuarakan kejujuran dan politik praktis yang bersih.
    Salam reformasi 98 ! Salam Marhein !

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s