Uang dan Matinya Demokrasi

Dalam perhelatan Politik, Uang menjadi bagian penting yang tak terhindarkan. Mulai dari besarnya Mahar yang harus disetor Kandidat pada partai pengusung hingga besarnya dana Operasional yang harus dimiliki untuk kelancaran kerja-kerja politik. Tanpa Uang segalanya hanyalah omong kosong belaka. Yang menjadi catatan kali ini adalah tentang matinya Demokrasi yang kita banggakan karena Uang. Mengapa demikian! Karena asas demokrasi Dari Rakyat, Oleh Rakyat dan Untuk Rakyat telah digantikan dengan asas baru yaitu Dari Uang, Oleh Uang, Dan Untuk Uang.

Realitas politik saat ini menggambarkan satu kondisi dimana dalam tiap perhelatan politik selalu saja ada orang atau lembaga yang siap mendanai para kandidat dengan Dana Besar. Pola investasi ini melahirkan arah politik yang tidak lagi demi kepentingan rakyat tapi untuk kepentingan pemodal.  Kondisi ini diperparah lagi dengan kerja-kerja politik yang dilakukan selama masa kampanye. Politik Uang adalah salah satunya. menjadi pertanyaan adalah apakah sebuah kemenangan yang berdasarkan Uang bisa dikatakan demokratis?? Bagaimanakah sosok pemimpin yang lahir dengan proses seperti ini?

Uang telah menggeserkan posisi wacana dalam perhelatan politik. Pemilih tak melihat bagaimana pentingnya visi missi yang dijabarkan tiap kandidat. yang ditunggu adalah kapan orang membagi-bagi uang. Uanglah yang dipilih. Uanglah yang memainkan peran penting perhelatan politik, bukan atas kehendak rakyat. Dan ironisnya, karena banyak uang yang di gelontorkan maka upaya menggantikan kembali uang yang dikeluarkan menjadi tak terhindarkan. Korupsi berjalan massif. dan ini membudaya, mengakarkuat dalam struktur politik kita.

Lalu, Dimanakah kepentingan rakyat?

 

 

Iklan

Jangan Salah Memilih Lagi : Catatan Untuk Pilkada Kab. Lembata 2017

Momentum Pemilukada tentunya memiliki arti yang sangat penting bagi perjalanan Daerah 5 Tahun kedepannya. Penentuan pilihan politik yang berimbas pada terpilihnya sosok pemimpin entah baik atau tidak berangkat dari kesadaran individual yang menilai dan memilah. Bukan sekedar memilih atau bersandar pada unsur Primordial yang melekat pada calon tertentu. sehingga menjadi penting untuk saling mengingatkan untuk tidak salah memilih lagi di 2017 ini.

Politik adalah Pertarungan. Segala cara tentunya dipakai. Tapi yang menentukan adalah Rakyat sebagai basis. Politik memang tak pernah lepas dari aspek primordial. Kesamaan suku, agama, Daerah dan lainnya menjadi modal sosial bagi tiap kontestan Pilkada. dan ini menjadi isu sentral dalam pertarungan kali ini. tapi mencadi catatan bagi kita semua adalah pertama, bahwa kita tidak memilih pemimpin agama sehingga harus bersandar pada faktor agama sebagai penentuan pilihan politik. kedua, bahwa kita tidak sedang memilih kepala suku, sehingga menolak suku lain untuk kita pilih. Yang kita pilih adalah kepala Daerah yang menghimpun beberapa Suku dan Agama yang berbeda dalam satu kesatuan, Kab. Lembata yang maju dan sejahtera.

Dengan bersandar pada kesadaran ini maka mari, tentukan pilihan kita di tanggal 15 Februari 2017 dengan tepat. mari memilih pemimpin yang tidak hanya mementingkan dirinya dan orang-orang sekitarnya. yang memimpin bukan karena keinginan untuk berkuasa. tapi memimpin untuk melayani keinginan rakyat. Lepas dulu sekat-sekat primordial, Lihat secara jernih, Tentukan dengan Tepat. Pada akhirnya hanya Satu yang memenangi pertarungan ini, karena Kalah adalah Mutlak Hukumnya dalam Politik.

Menang karena memang harus menang, Bukan karena Uang atau kelicikan lainnya..