Politik Nilai.. -Catatan Kecil..

Politik Nilai??
Ah,,,
Jangan2 cuma jargon..
Yang kulihat, dibalik layar kau mengatur langkah; untuk menghujat siapapun..tp bukan dengan mulutmu..Kau sungguh cerdas..
Tapi kenapa tak jujur saja, berani di hadapan massa menelanjangi pihak lain. Biar sekalian dibilang ”mereka hadir untuk balas dendam” seperti yang sudah terjadi untuk beberapa orang saat ini??

Ah.. Politik Nilai..

Bah..

Kau sama saja dengan Saya..
Sama2 tak memahami setakar apa nilai dipahami..
Atau jangan2, karena beda tafsir….. Lalu Yang tidak bernilaipun adalah juga Nilai??
Entahlah….

!!

Iklan

Saya tidak SARA & cinta Cina

Journey of Sinta Yudisia

 

Teman SMP saya banyak yang Cina. Teman SMA, juga. Teman kuliah di fakultas Psikologi tak terkecuali. Sekarangpun teman dan tetangga saya ada yang Cina. Kompleks perumahan kami bersebelahan persis dengan kompleks perumahan lumayan mewah, yang 95% penghuninya Cina.

Kalau beli kain di Pucang, penjualnya rata-rata Cina.  Beli barang elektronik di Hartono atau Hi Tech Mall, atau Marina, rata-rata penjualnya Cina. Beli alat-alat listrik di dekat rumah, seperti kipas angin, setrika, atau colokan listrik; juga Cina.

Di Surabaya banyak warga Cina muslim, yang aktif di masjid Cheng Ho. Sepupu saya menikah dengan orang Cina, yang menjadi muallaf dan menjadi pendakwah Islam. Pendek kata, bertemu warga Cina dalam lalu lalang kehidupan sehari-hari, adalah hal biasa. Di jalan raya, di perdagangan, di kampus, di dunia kerja. Etnis Cina, Jawa, Madura, Arab, India, Batak; campur aduk tak terpisahkan sebagai satu koloni masyarakat Indonesia.

Pengagum Cina

Saya sungguh mengagumi budaya Cina. Lewat film-filmnya, terutama.

Lihat pos aslinya 1.146 kata lagi

Di RSUD Lewoleba

Di tepi selasar ini, di bangku-bangku yang disediakan Ku habiskan waktu.
Sesekali mataku menatap kedamaian beberapa bocah berebutan jambu air yang sengaja di petik penjaga taman yang kecil itu.. Sepertinya mereka tak pernah tau bahwa di ruang sebelahnya seseorang sedang berjuang menghadapi maut.
Sementara di selasar ini juga, hilir mudik orang mencari perawatan. Sepotong kegelisahaan terpajang dari raut mereka. Cemas yang menggantung..

Sementara aku yang terpaku
berusaha mengeja tanda yang mereka titipkan
: sakit, dan mati..

Ah.. Maut, sengajakah kau menakutiku??

**
November

01 November

*
Tak ada satu pun kenangan yang bisa kuingat dari bulan ini. Mungkin juga tak pernah ada kenanganku sama sekali di Bulan ini.. Semakin terus kucari kupikir semakin pupus pula harapanku.
Waktu terus berjalan, sementara aku masih terus mereka-reka perjalananku; hendak kemana kaki ini kan berlabuh. Apa yang masih kucari dan belum kutemukan??
Beberapa fase perjalanan hidup kelewati. Jenjang pendidikan formal telah selesai. Tak ada niat untukku melanjutkan lagi lebih tinggi. Sebuah gelar Sarjana cukup membanggakanku. Meskipun selembar Ijazah tak harus jadi jaminan hidupku. Fase kemudian lagi adalah menikah. Inipun sudah kulewati. Memenuhi tuntutan sunnah, demikian kata orang Tuaku. Tapi aku memaknainya sebagai Legalisasi Nafsu. Yah, agar napsu badaniahku tersalur dengan benar. Mungkin ini terlampau sempit maknanya. Tapi aku dengan kesempitan cara berpikirku mereduksi makna Menikah dalam satu cara pandangku yang bagiku sederhana. Tapi ini tidak berarti aku harus mengabaikan amanah yang diemban pada diriku sebagai pemimpin bagi Rumah Tanggaku. Aku memilih menjadi bagian dari cara bumi membesarkan seluruh isinya. Kelembutan kasih bumi mengajariku.. Di Gua Garba Isteriku kutitipkan cinta…

01 November..

Aku telah belajar sekian tahun pada pendidikan formal. Berusaha memahami setiap sisi kehidupan dengan cara pandang bukan Hitam Putih. Tapi satu hal kusadar, dunia pendidikan formal tak selalu berpihak pada bagaimana menjalani kehidupan. Kampus telah berubah menjadi mesin produksi; menghasilkan sarjana-sarjana pencari Uang, Pragmatis, Instan, bahkan Destruktif. Dan akupun adalah bagian dari itu.
Tak ada proses pemaknaan lebih lanjut tentang kehidupan ini. Tak ada i’tikad transformatif. Semuanya hanya untuk Uang.

Disinilah, di 01 November ini saya
Teringat sebuah kutipan yang kubaca, ” tempat belajar terbaik adalah di kehidupan ini”.
Tempat saya belajar membangun empati sosial, dsbnya..

Tetapi, entahlah…
Semuanya akan tetap kujalani dikehidupan ini. Seperti ini saja..hehe

**
November…

Catatan Tengah Malam

Apa yang bisa kulakukan saat mata tak bisa kuajak untuk berkompromi.
Segala persoalan menumpuk untuk kupikirkan. Dari masalah keuangan hingga urusan sepele lainnya. Istri sudah tidur. Sementara kopi sudah kali ketiga kuseduh. Ah.. Tengah Malam begini tanpa sesiapun untuk diajak berbagi. Hanya lembaran ini dan tuts hp yang kuajak bercerita. Sementara diluar sana, deru angin perlahan menjatuhkan satu persatu dedaun ketanah. Dedaun yang layu dan perlahan mengering. Saya jadi berpikir lagi soal mati. Tentang maut yang datang, pelan-pelan membuat tanda. Dari segar, layu kemudian mati. Tapi untuk apa bicara mati? Entah besok atau lusa kematian akan selalu mengintai kemanapun kita pergi. So, biarkan saja ia datang. Toh hidup ini pasti mati juga.
Tapi ini soal lain, soal dan hidup dan menghidupi. Tapi tentang apa yah??????? Bingung..
Sebenarnya tak ada yang ingin kuceritakan lagi. Mengetik beberapa huruf ini sudah cukup puas bagiku.soal kehidupan, Saya tak ingin mengeluh. Karena mengeluh otomatis tak mungkin merubah keadaan. Jadi bersyukur saja atas nikmat Tuhan yang ada. Sambil berupaya meningkatkan kualitas diri mungkin..
Sebab Nikmat Tuhan yang mana yg mesti ku dustakan??

Jadi..
Hiduplah,
sepanjang masih bisa tersenyum, tersenyumlah…
Sebab Hidup ini indah..
**
“Tidak jelas Tulisan apa ini…”