Saya dan Desa; Catatan kecil tentang Pendamping Desa


Kali ini saya hendak menulis tentang aktifitas kerja saya sehari-hari.
**
Saat ini saya menggeluti pekerjaan sebagai seorang Pendamping Desa. Menjadi seorang Pendamping Desa, ada banyak suka dan dukanya.hehe.. Makluklah, program pendampingan bagi Desa ini baru berjalan beberapa bulan untuk wilayah saya di NTT khususnya kab. Lembata. Saya bertugas di desa terhitung mulai tgl 02 Mey 2016. Dan saya mendampingi 3 Desa sekaligus dalam program ini yaitu Desa Kalikur WL, Desa Rumang, dan Desa Tobotani.

Harus saya akui bahwa menjadi seorang Pendamping Desa bukanlah sesuatu mudah. Tanggung Jawab memujudkan amanat UU dan Nawacita Presiden yaitu membangun dari pinggiran, menjadikan tugas ini hadir sebagai sebuah amanah bagi saya. Apalagi saya adalah bagian dari desa yang semestinya memiliki tanggung jawab sosial untuk mengembangkannya ketika diberi kewenangan luas bagi desa saat ini. Namun saya tidak perlu munafik.
Mendampingi 3 Desa sekaligus bagi saya sangat-sangat tidak efektif. Apalagi jarak tempuh antara satu desa dengan desa lainnya berjauhan, belum lagi kondisi jalan yang belum tersentuh aspal. Kondisi seperti ini menjadi kendala tersendiri bagi saya dan teman-teman lain di wilayah Desa dalam melaksanakan proses pendampingan. Hal ini belum di tambah lagi dengan tipe para Kades yang menganggap kehadiran PD/PLD sebagai ”INTEL” yang hendak mencari tahu kelemahan mereka dalam pengelolaan Dana Desa. Sehingga yang terjadi adalah sukarnya membangun komunikasi yang baik antara kami selaku pendamping dan Para Kades di Desa.
Terkadang saya beranggapan bahwa mungkin karena program ini masih baru sehingga progresivitas pendampingan terkesan lamban.
Akan tetapi melihat perkembangan Desa sejak di topang DaNa Desa oleh Pemerintah pusat, saya menjadi ragu akan kemajuan dan kemandirian desa seperti yang di harapkan. Yang pada akhirnya program ini hanya akan menghabiskan anggaran untuk pembiayaan tenaga pendamping yang jumlahnya ribuan.
Kenapa saya katakan demikian? Saya menjadikan 3 Desa dampingan saya sebagai uji sample pengamatan saya.
Terkait Dana Desa yang dialokasikan untuk pembiayaan Pembangunan Infrastruktur dan pemberdayaan, saya melihat kecendrungan pengeloaannya hanya bertumpu pada pembangunan infrastruktur desa. Ada beberapa alasan kenapa pemberdayaan tidak bisa berjalan maksimal. Pertama; para Kades selaku Kuasa pengguna anggaran menggunakan cara pikir yang sederhana yakni bagaimana mengelola dana dimaksud tanpa harus terkena SILPA (sisa lebih penggunaan Anggaran). Sehingga Dana Desa diupayakan habis dikelola untuk infrastruktur.
Kedua; Kurangnya SDM dalam mendesain model pemberdayaan yang baik bagi masyarakat Desa berdasarkan kajian sosial budaya dan bentuk topografi desa tersebut.
Ketiga; amanat UU utk membentuk Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) tidak mendapat sambutan yang baik didesa karena hampir seluruh masyarakat desa kebingungan mengelola BUMDes dimaksud.
Keempat; hampir tidak ada potensi desa yang siap dikelola. Kalaupun ada, sangat susah memulainya/ membangun kesadaran masyarakat untuk memulainya.
Kelima; sangat sedikit dana yg dialokasikan untuk pemberdayaan. Saya ambil contoh, misalkan di Desa hendak membangun jaringan Perusahaan Air Minum Desa untuk dikelolah menjadi aset Desa. Yang menjadi kendala pertama adalah Modal. Dana 40 persen pemberdayaan dari Total Dana Desa tidak bisa mencukupi untuk kegiatan dimaksud. Sehingga yang terjadi adalah mandek.
Terakhir; masih lemahnya Sumber Daya tenaga pendamping seperti saya dalam mengelola dan mendampingi proses yang ada di desa.

Dari uraian sederhana diatas, saya tidak punya alasan untuk menyalahkan siapapun. Bagi saya yang terpenting adalah mari sama-sama memperbaiki ini semua. Mulai dari desain model pelatian bagi tenaga pendamping sampai pada pelatihan bagi aparat Desa.
Sehingga kedepannya, cita-cita membangun dari pinggiran bisa terwujud dan menjadikan desa sebagai orientasi pembangunan nasional. Dan yang terakhir terkait model pemberdayaan, mesti ada kajian khusus untuk wilayah desa yang berada dipinggiran. Karena terkadang proses mengeneralisir semua desa dalam satu kategori akan berakibat pada salah sasaran membangun sesungguhnya.

Dan ini hanya coretan tangan biasa, mungkin ada banyak kesalahan saya menafsirkan UU tentang desa sehingga dengan adanya masukan berupa pikiran yang konstruktif maka tentu sangat bermanfaat bagi saya dalam berproses.

Sekian..
#Salam Berdesa
#Bangga Membangun Desa

Iklan

Penulis: sangsepi

👉👉 Saya, secangkir kopi dan kenangan. 👈👈

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s