Pilkada Lembata; Catatan Kecilku

Pilkada Lembata; Antara Uang dan Popularitas. Selebihnya hanyalah ornamen yang menghiasi.
Benar bahwa uang dan popularitas menjadi salah satu jaminan kemenangan dalam tiap suksesi. Tapi mengesampingkan ideologi yang dituangkan dalam visi misi sama saja dengan menggantungkan nasib selama 5 tahun ke depan. Turunan dari Visi Misi adalah program Kerja. Menilai program kerja tanpa rasionalitas yang benar hanya akan melahirkan sikap fanatisme dalam memberi dukungan.

Semisal incumbent, mari lihat kembali visi misi 5 tahun lalu, berapa persen yg terealisasi?? Jika Ia (incumbent) berjalan sesuai dg apa yang menjadi Visinya dalam membangun Daerah 5 tahun yang lalu, kenapa tidak kita harus memilihnya kembali..
Tapi jika ia keluar dari Visinya kemarin, rasanya pantas untuk kita menolaknya kembali memimpin.

Mari Lihat juga Visi Misi 4 kandidat yang lain. Mari cermati, dan membuat pilihan berdasarkan rasio.

Yang susahnya adalah masyarakat awan yang hanya bisa melihat tanpa meneliti, yang hanya bisa merasakan tanpa sebuah kesadaran akan apa yang dirasakan..

Bagi saya, Harus ada ruang untuk pendidikan politik yg benar, bukan pendadakan politik, agar pilihan politik rakyat tidak dng pendekatan pragmatis dan fanatisme buta. Ini tentu panjang, karena mempola dan mengkonstruksi kembali pikiran dan prilaku politik rakyat agar memilih secara ideologis dan rasional menjadi beban yg berat karena sekian tahun rakyat sudah terpola dng model politik yg ada skrg (cenderung pragmatis).
**

Tapi beginilah politik, siapa yang kencang wacananya sampai ke akar, Ia yang kemudian akan selalu di ingat..
Tidak peduli wacananya benar atau tidak dalam diskursus ilmu. Yang terpenting masyarakat meyakininya sebagai sebuah kebenaran..

#Lamawulo Yani

Iklan

Saya dan Desa; Catatan kecil tentang Pendamping Desa

Kali ini saya hendak menulis tentang aktifitas kerja saya sehari-hari.
**
Saat ini saya menggeluti pekerjaan sebagai seorang Pendamping Desa. Menjadi seorang Pendamping Desa, ada banyak suka dan dukanya.hehe.. Makluklah, program pendampingan bagi Desa ini baru berjalan beberapa bulan untuk wilayah saya di NTT khususnya kab. Lembata. Saya bertugas di desa terhitung mulai tgl 02 Mey 2016. Dan saya mendampingi 3 Desa sekaligus dalam program ini yaitu Desa Kalikur WL, Desa Rumang, dan Desa Tobotani.

Harus saya akui bahwa menjadi seorang Pendamping Desa bukanlah sesuatu mudah. Tanggung Jawab memujudkan amanat UU dan Nawacita Presiden yaitu membangun dari pinggiran, menjadikan tugas ini hadir sebagai sebuah amanah bagi saya. Apalagi saya adalah bagian dari desa yang semestinya memiliki tanggung jawab sosial untuk mengembangkannya ketika diberi kewenangan luas bagi desa saat ini. Namun saya tidak perlu munafik.
Mendampingi 3 Desa sekaligus bagi saya sangat-sangat tidak efektif. Apalagi jarak tempuh antara satu desa dengan desa lainnya berjauhan, belum lagi kondisi jalan yang belum tersentuh aspal. Kondisi seperti ini menjadi kendala tersendiri bagi saya dan teman-teman lain di wilayah Desa dalam melaksanakan proses pendampingan. Hal ini belum di tambah lagi dengan tipe para Kades yang menganggap kehadiran PD/PLD sebagai ”INTEL” yang hendak mencari tahu kelemahan mereka dalam pengelolaan Dana Desa. Sehingga yang terjadi adalah sukarnya membangun komunikasi yang baik antara kami selaku pendamping dan Para Kades di Desa.
Terkadang saya beranggapan bahwa mungkin karena program ini masih baru sehingga progresivitas pendampingan terkesan lamban.
Akan tetapi melihat perkembangan Desa sejak di topang DaNa Desa oleh Pemerintah pusat, saya menjadi ragu akan kemajuan dan kemandirian desa seperti yang di harapkan. Yang pada akhirnya program ini hanya akan menghabiskan anggaran untuk pembiayaan tenaga pendamping yang jumlahnya ribuan.
Kenapa saya katakan demikian? Saya menjadikan 3 Desa dampingan saya sebagai uji sample pengamatan saya.
Terkait Dana Desa yang dialokasikan untuk pembiayaan Pembangunan Infrastruktur dan pemberdayaan, saya melihat kecendrungan pengeloaannya hanya bertumpu pada pembangunan infrastruktur desa. Ada beberapa alasan kenapa pemberdayaan tidak bisa berjalan maksimal. Pertama; para Kades selaku Kuasa pengguna anggaran menggunakan cara pikir yang sederhana yakni bagaimana mengelola dana dimaksud tanpa harus terkena SILPA (sisa lebih penggunaan Anggaran). Sehingga Dana Desa diupayakan habis dikelola untuk infrastruktur.
Kedua; Kurangnya SDM dalam mendesain model pemberdayaan yang baik bagi masyarakat Desa berdasarkan kajian sosial budaya dan bentuk topografi desa tersebut.
Ketiga; amanat UU utk membentuk Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) tidak mendapat sambutan yang baik didesa karena hampir seluruh masyarakat desa kebingungan mengelola BUMDes dimaksud.
Keempat; hampir tidak ada potensi desa yang siap dikelola. Kalaupun ada, sangat susah memulainya/ membangun kesadaran masyarakat untuk memulainya.
Kelima; sangat sedikit dana yg dialokasikan untuk pemberdayaan. Saya ambil contoh, misalkan di Desa hendak membangun jaringan Perusahaan Air Minum Desa untuk dikelolah menjadi aset Desa. Yang menjadi kendala pertama adalah Modal. Dana 40 persen pemberdayaan dari Total Dana Desa tidak bisa mencukupi untuk kegiatan dimaksud. Sehingga yang terjadi adalah mandek.
Terakhir; masih lemahnya Sumber Daya tenaga pendamping seperti saya dalam mengelola dan mendampingi proses yang ada di desa.

Dari uraian sederhana diatas, saya tidak punya alasan untuk menyalahkan siapapun. Bagi saya yang terpenting adalah mari sama-sama memperbaiki ini semua. Mulai dari desain model pelatian bagi tenaga pendamping sampai pada pelatihan bagi aparat Desa.
Sehingga kedepannya, cita-cita membangun dari pinggiran bisa terwujud dan menjadikan desa sebagai orientasi pembangunan nasional. Dan yang terakhir terkait model pemberdayaan, mesti ada kajian khusus untuk wilayah desa yang berada dipinggiran. Karena terkadang proses mengeneralisir semua desa dalam satu kategori akan berakibat pada salah sasaran membangun sesungguhnya.

Dan ini hanya coretan tangan biasa, mungkin ada banyak kesalahan saya menafsirkan UU tentang desa sehingga dengan adanya masukan berupa pikiran yang konstruktif maka tentu sangat bermanfaat bagi saya dalam berproses.

Sekian..
#Salam Berdesa
#Bangga Membangun Desa

Kepada Isteriku

Ini bukan sajak sayang, bukan juga puisi; sebab aku tak pernah bisa suguhkan semanis puisi para pujangga..
Puisiku adalah dirimu, saat mata tak bosan-bosan memandang manis senyum dikelopak bibirmu.
Atau manjamu yang pudarkan letih saat senja memanggilku pulang kerumah..

Kepada isteriku..
Cinta ini tak semestinya kututur kutulis..
Bukan juga karena harus kau tahu.
Cinta kita mengalir melampaui kata menembus ucap..
Tapi karena kita adalah kenangan,
maka kupinjam sebuah puisi untukmu..
” * karena aku mencintaimu, kutulis namamu senyawa nyawaku”…

**

Politik ; Catatan Pinggir

Dialektika, antara thesis, anti thesis, dan sintesis..
Jika pilkada diasumsikan dg prinsip diatas, tentunya kita berharap lahirnya anti thesis sebagai kekuatan baru yang membawa perubahan sebagai sintesis.. Konfrontasi antara konservatif yang mempertahankan cara2 lama dan reformis yg menghendaki pembaharuan, akan melahirkan wajah baru pemerintah yang lebih baik.
Tapi siapa yg mesti ditempatkan dalam dua kategori diatas? Hampir semuanya yang mengambil bagian dalam perhelatan akbar ini tak ada beda..
Jika pada akhirnya ada yg baru yang memenangi pertarungan ini, sy khawatir dialektika yang melahirkan sintesa tidak lebih baik dari thesa.
Seperti adorno yang beranggapan bahwa tidak selamanya proses dialektika itu berjalan positif.
Karena dalam dialektika negative, sistesis belum tentu lebih baik dari thesis sebelumnya..

Tidak ada perbedaan dari tiap kandidat yang bertarung ini mengindikasikan bahwa wajah politik saat ini tidak lagi mengusung gagasan sebagai produk yang harus dijual ke konstituen. Toh ujung-ujungnya klw bukan pencitraan ya duit.

Sampai kapan dunia politik lahir kembali sebagai medan pertarungan yang bermartabat?
Ah..entahlah…

#OlahPikir Pagi Ini..
#PilkadaLembata