Jodoh Itu, Ikhtiar Ataukah Pilihan Tuhan?


Kemarin, saat bersama teman-teman disebuah acara kumpul-kumpul, sebuah diskusi pun mengalir. Tentang jodoh. Apakah ia adalah ketentuan Tuhan ataukah ia adalah hasil ihktiar? Kami diskusi tanpa dasar, tanpa argumentasi yang sesuai literatur. Dan hanya interpretasi sederhana. Dan akhirnya saya membuat catatan kecil ini, menyimpulkan yang sedikit dari yang terserak..

Jodoh, memang ada di tangan Tuhan. Tapi bagi saya, konsep jodoh ditangan Tuhan adalah konsep global. Tuhan telah menggariskan bahwa telah di ciptakan manusia berpasang-pasang, dari jenismu sendiri agar cendrung tentram. Bagi saya, ini adalah konsep universal, dimana sudah pasti bahwa kecendrungan kita untuk berpasangan adalah sesuatu yangย  alamiah.

Tuhan telah menetapkan takdir tersebut tanpa bisa kita tolak. Tapi Tuhan tak pernah menentukan siapa jodoh kita. Yang mengandung arti bahwa yang menentukan siapa pasangan hidupmu adalah hasil dari apa yang engkau usahakan sendiri. Dan inilah pilihan sadar tiap manusia yang tentunya mengandung konsekuensi. Tetapi ini bukanlah sesuatu yang bertentangan dengan sunatullah. Karena bagi saya, manusia pada mulanya telah diberi kebebasan untuk memilih. “Telah Aku tawarkan kepada gunung, laut dan samudera, tapi tak ada yang mampu mengemban amanahKu. Hanya manusialah yang menerima itu”. Sebab manusia telah dipilih untuk bebas. (Kadang saya juga berpikir, jangan_jangan manusia tak punya pilihan lainย  untuk menerima saja. Seperti bahasanya sartre, Manusia dikutuk menjadi bebas. hehehe.)

Sampai disini pertanyaanpun timbul. Apakah Tuhan telah kehilangan peran setelah membuat aturan yang berlaku tersebut? Sunnatullah yang ditetapkan?

Kembali kepada persoalan Pilihan diatas. Apakah betul bahwa manusia memilih dengan sadar pilihannya untuk mengemban amanah itu. Ataukah ini adalah skenario yang di paksakan Tuhan kepada manusia karena kelebihannya memiliki akal? Manusia hanyalah wayang yang dimainkan sang dalang. dan konsekuensinya adalah jodohpun sudah di atur oleh Tuhan. Jadi manusia harus menerima saja jodohnya, entah ia buta, tuli, cacat fisik, dsbnya, sebab di mata Tuhan sama saja.

Ah, entahlah.. Jangan-jangan seperti bahasanya Milan Kundera, ” Manusia Berpikir, Tuhan Tertawa.

**

Lamawulo,

Iklan

Penulis: sangsepi

๐Ÿ‘‰๐Ÿ‘‰ Saya, secangkir kopi dan kenangan. ๐Ÿ‘ˆ๐Ÿ‘ˆ

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s