Tentang Pendidikan Kita


Ini hanya pikiran sederhana saya tentang pendidikan kita hari ini. Dan menjadi titik berangkat persoalan pendidikan kita adalah terkait produk yang dihasilkan dari sistem ini dan korelasinya dengan kehidupan berbangsa saat ini.
**
Pendidikan tentunya menghendaki agar setiap produk yang dihasilkannya berkualitas. Dan ini memang berhasil. Lihat saja para intelektual yang jumlahnya tak terhitung, para politisi, para tokoh bangsa, para agamawan, sarjana, dan lain-lain. Semuanya punya kualitas yang mumpuni. Semua ini pun tidak bisa terlepas dari peran pendidiknya. Pendidik adalah agen perubahan. Tapi seorang pendidik tidak boleh keluar dari aturan atau sistem pendidikan yang berlaku.
Lalu pertanyaannya adalah salahkah sistem pendidikan kita? Saya tidak hendak menyalahkan sistem pendidikan kita, dan saya tidak punya kompetensi untuk menyalahkannya. Akan tetapi yang mengherankan saya adalah berbagai persoalan yang melanda bangsa ini tidak bisa terselesaikan. Seperti yang saya singgung diatas, pendidikan kita telah melahirkan banyak intelektual, politisi, praktisi, agamawan, dll. Mestinya orang-orang pintar seperti diatas bisa menjadi tulang punggung bangsa dalam melakukan perubahan. Tapi miris jika kita melihat kenyataan yang ada. Korupsi merajalela dari tingkat atas hingga paling bawah. Pembunuhan dimana-mana. Perampokan, pemerkosaan, tawuran dll menjadi suguhan utama sehari-hari kita. Beginikah manusia-manusia yang lahir dari rahim pendidikan kita?
Atau mungkin saya yang keliru memaknainya?

Bagi saya, lahirnya manusia seperti diatas adalah juga produk pendidikan kita.
Dan saya menganggap ini akibat dari sistem yang diterapkan dimana penekanan terhadap aspek IQ mendapat porsi yang sangat besar. Ini tidak keliru sebenarnya. Tapi kita kehilangan porsi untuk membentuk karekter bangsa, karna terkuras habis untuk meningkatkan kecerdasan IQ. Kita bahu membahu mengejar ketertinggalan IPTEK. Tapi mengesampingkan nilai-nilai. Kita tampak gagah dari luar tapi rapuh dari dalam. Dan akhirnya, intelektual kita menamai dirinya bebas nilai. Tak ada pemihakan. Tak ada kepentingan besar yang diperjuangkan. Masyarakat hanya bisa jadi penonton setia, jadi obyek yang siap dieksploitasi kapan saja.

Dimata saya, sistem pendidikan kita masih belum menjawab persoalan bangsa hari ini. Karna tadi, kita mengejar kecerdasan angka. Lihat saja, dari satuan pendidikan terendah hingga yang paling tinggi, yang dikejar adalah nilai dalam hitungan angka-angka. Tak peduli angka ini didapat dengan cara yang tidak patut. Karena dunia kerja membutuhkan angka. Sehingga lahirlah generasi materialistis, yang hanya mengejar materi dan syahwat.

Saya punya solusi, sekalipun belum tentu benar.
* Perkuat kinerja guru/pendidik. Pendidik harus bisa jadi suri tauladan bagi siswa/mahasiswa. Bukan sekedar menyelesaikan materi dalam RPP / SKS.
Untuk itu, kesejahteraan pendidik mesti jadi prioritas.

* untuk mata pelajaran/mata kuliah. Saya ingin jumlah jam untuk mata pelajaran seperti agama, kewarganegaraan, dan sejarah di perbanyak dan dijadikan juga sebagai mata pelajar yang diprioritaskan.

Akhirnya, saya hanya punya dua usul sederhana diatas. Dan keberhasilan pendidikan tentunya tidak serta merta lahir di sekolah atau di uneversitas. Tapi kunci utamanya ada dirumah sebagai fondamen utama.

Tentunya, dengan perbaikan-perbaikan yang sedang dilakukan saat ini oleh lembaga terkait, kita berharap agar produk pendidikan kedepannya bisa lebih baik dan bisa menjadi motor penggerak perubahan bangsa ini.
**
Semoga..

Lamawulo yani..

Iklan

Penulis: sangsepi

πŸ‘‰πŸ‘‰ Saya, secangkir kopi dan kenangan. πŸ‘ˆπŸ‘ˆ

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s