Kemerdekaan di Persimpangan


Kubuka sejarah. Satu dua amanat terbaca. Lawan Imperialisme. Lawan Kapitalisme.
Tapi itu tinggal terbaca. Tanpa semangat. Gagap.
Akhirnya tetap terjajah, dalam gaya baru: yang mencengkeram eksistensi kita, yang merampok kekayaan kita, yang mencerabut identitas kita. Dan kita tinggal Tunggu.
Mungkin kematian, mungkin kehancuran..

Kubaca sejarah. Amanat tertulis.
Tentu kita tidak lupa. Pada semangat, pada harapan, pada heroisme yang lekat di ingatan. Tidak mungkin lupa, atau sengaja lupa. Tidak mungkin. Kita semua sama tau. Kita di jajah hari ini.
Lalu kenapa kita tetap begini.
Siapa yang salah.
Rakyat atau pemimpin?
Ah.. Tak perlu saling menyalahkan.
Kita dipersimpangan. Antara menolak dan takut ditindas. Antara menerima dan tetap tertindas.

Memang kita rindu. Pada sosok yang berani menantang dan menolak. Yang berani membongkar belenggu. Tanpa takut di sisihkan dunia. Seperti dulu, seperti dulu.

Tapi ah..
Kita di persimpangan.

**
Lamawulo Yan.

Iklan

Penulis: sangsepi

๐Ÿ‘‰๐Ÿ‘‰ Saya, secangkir kopi dan kenangan. ๐Ÿ‘ˆ๐Ÿ‘ˆ

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s