Cerita Saya; Mengatasi Kejenuhan


Beberapa hari belakangan ini, saya disibukkan dengan aktifitas memahami UU No 6 tentang Desa beserta beberapa aturan tambahannya. Ini saya lakukan hanya untuk menghadapi tes wawancara seleksi tenaga Pendamping Desa. Maklum hidup di desa..hehe.. Dan Alhamdulillah sudah saya hadapi dengan nilai memuaskan. Semoga LuLus,Amin..hehe..
Sambil menunggu pengumuman yang tak kunjung datang,haha, saya diserang rasa jenuh dan bosan menghadapi aktifitas sehari-hari yang belum menentu. Juga kondisi dompet yangterus menipis..hahaha..

Beberapa buku coba saya buka kembali. Tapi tetap tak menarik, malah tambah membosankan. Saya mencoba mengunjungi beberapa teman, alhamdulillah sedikit hilang, tapi sekembalinya saya kerumah, kejenuhan menjalari isi kepala saya.
Tapi sore tadi, sebuah novel, The Name Of The Rosenya Umberto Eco yang telah lama tak tersentuh cukup menghibur suasana hati ini. Meski tak sempat tuntas membacanya kembali, beberapa penggalan cerita masih menarik untuk saya baca. Kisah Wiliam dan Adso mengungkapkan misteri pembunuhan di biara, dengan kacamata semiotikanya memantik semangat saya untuk menelusuri tiap relung kisah dalam setting abad pertengahan. Apalagi didorong rasa ingin tahu lebih mendalam tentang semiotika yang sebenarnya sangat minim dikepala saya. Tapi sungguh kasihan, saya belum sempat menyelasikannya lagi. Terlalu tebal bukunya.. Juga hujan sore tadi yang lebih hebat menghipnotis mata saya untuk terlelap..haha..
Rencananya malam ini ingin saya lanjutkan membaca.
Tapi sebuah cerpen Budi Darma lebih berhasil memikat hati saya. Judulnya ” Dua Penyanyi”. Kisah tentang dua pasangan suami istri yang hampir sama namanya, sama tahun, tanggal, dan hari kelahirannya. Sama tanggal pernikahannya. Tapi berbeda tempat tinggal. Yang satu di Timur dan satu di Barat. Juga sama-sama melahirkan putra masing-masing dihari yang sama..dan masih banyak ceritanya lainnya.
Tapi jujur, membaca cerpen ini membuat kepala saya pening.hehe..
Cara bercerinya memang enak, tapi tak jelas apa maksudnya. Absurd. Mungkin karena Nama Besar sang penulis, saya tertarik membacanya. Pertimbangan lainnya adalah karena cerita pendek, daripada membaca lagi The Name Of The Rose yang 700an halaman tebalnya.
Memang, tak mudah memahami pikiran budi darma, dengan kadar pengetahuan sastra milik saya yang sangat standar.
Tapi tak apa, saya punya bahan untuk membaca.
Saya jadi ingat, saat pertama kali membaca salah satu novelnya “OLENKA” yang saya beli beberapa tahun lalu, saya mesti membacanya berulang-ulang. Ditambah dengan bantuan om google saya mencari ulasan tentang novel tersebut. Dan saya berhasil memahami meskipun sedikit. Kali ini membaca cerpennya yang cuma sekali baca, saya putuskan untuk cuma sekali baca. Saya lagi mencari cerpen lainnya untuk menemani mata, atau membaca lagi The Name Of The Rose..

Saya masih berpikir..haha..
Dan beginilah aktifitas saya, cara saya mengatasi rasa bosan, membaca, lalu menulis untuk sekedar curhat, sekedar pula melepas rasa jenuh..

#Malam ini, dengan Kopi Hitam dan kepulan asap rokok saya ingin menyapa..
Selamat Malam sahabat Semuanya..

Iklan

Penulis: sangsepi

👉👉 Saya, secangkir kopi dan kenangan. 👈👈

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s