Selamat Datang 2016

Tahun berganti, itu pasti. Ada yang datang ada yang pergi. Yang datang menjadi sebab bagi yang pergi. Yang pergi pun jadi sebab bagi yang datang. Kausalitas yang berputar melingkar.
Tapi kenapa harus ada yang datang dan harus ada yang pergi meninggalkan semuanya?

Kepergian menyisahkan kenangan. Retak yang abadi.
Lalu yang datang memberi harapan. Keabadian yang kemudian retak pula.
Adakah yang datang tapi tidak meninggalkan kenangan?
Ah, rindu..

Oh.. Tahun berganti.
Wajah baru menyongsong.
Tinggalkan riuh kenangan memerdu, atau luka memeluk jiwa; hampa.
Apa artinya harapan bila seribu tangan kenangan terus menjamah memeluk sanubari??
Tapi toh kita tetap berharap.
Sebab tak ada lagi yang tersisa selain harap.
Biarkan ia menari sekali lagi bersama datangnya Tahun Baru.
Sebab semua jiwa merindukan kebaruan..

Selamat menyambut 2016

Iklan

Yang Bilang Haram Hukumnya Memberi Selamat Natal Itu TIdak Waras Orangnya..

Saya termasuk seorang yang sangat jengkel mendengar Fatwa ”Haram Hukumnya mengucapkan selamat Natal”. Apakah orang-orang ini sudah sangat benar sehingga seenaknya memberi fatwa haram atau halal? Seakan Tuhan itu milik mereka sendiri..
Mereka ini jangan-jangan tak pernah hidup berdampingan dengan agama lain, tak pernah merasakan betapa indahnya persahabatan dalam perbedaan..
Dimana kebinekaan yang kita junjung selama ini? Di tong sampah sejarahkah??

Ah.. Inilah tirani mayoritas. Seharusnya yang mayoritas itu melindungi yang minoritas, bukan membuat keruh suasana dengan pernyataan-pernyataan seperti ini. Apapun agamamu, jika engkau berbuat baik untuk sesama, orang tidak akan bertanya apa agamamu.. Yang seperti Ini lebih penting.
Dan tentunya, agama yang luhur itu mengajarkan etika. Anda boleh tidak meyakini kepercayaan agama diluar kepercayaan anda, tetapi apa hak anda melakukan klaim-klaim kebenaran tersebut?
Jujur, saya juga muslim.. Tetapi banyak saudara saya, teman-teman saya, guru-guru saya, dll, yang beragama kristen/Katholik.
Lalu ketika saya mengucapkan selamat Natal, kenapa anda menghakimi saya melakukan perbuatan haram?
Bertahun-tahun kami hidup berdampingan, tanpa pertikaian, tanpa permusuhan. Karena bagi kami persaudaran itu lebih penting. Dan persaudaraan mengatasi segala kebenaran tentang agama yang kami anut.

Saya kasihan dengan anda yang suka membuat fatwa haram..
Ingatlah,, sesungguhnya yang maha benar itu hanyalah Tuhan.
Dan kita tidak memiliki hak untuk menerobos yang menjadi milikNya.
Tugas kita hanyalah memakmurkan dunia..

***
Selamat Hari Natal untuk saudaraku yang merayakannya..

Ada Apa Di Balik Rekomendasi Pansus Pelindo II DPR??

Akhirnya Pansus Pelindo II merekomendasikan pencopotan Menteri BUMN Rini Sumarno dan Pencopotan RJ Lino dari jabatan Direktur Utama (Dirut) PT Pelindo II.
Rekomendasi Pansus ini dilatari dugaan suap Dirut PT Pelindo II kepada Menteri BUMN Rini Sumarno yang diketahui melalui pengaduan Politisi PDIP Masinton Pasaribu.

Mencermati kasus pelindo II ini, beragam tafsiran kemudian lahir. Dimulai dari pengadu Masinton Pasaribu yang merupakan Politisi PDIP, hingga ketua Pansus Pelindo II DPR Rieke Diah Pitaloka yang juga adalah politisi PDIP.
Lanjutkan membaca “Ada Apa Di Balik Rekomendasi Pansus Pelindo II DPR??”

Ibuku, Kebanggaanku: Selamat Hari Ibu

Ibu saya adalah seorang guru Agama Islam di sebuah Sekolah Dasar di kotaku. Usianya sudah memasuki usia senja, namun semangatnya tak terlihat luntur sedikitpun. Meskipun ia menderita sakit mag yang cukup akut, untuk urusan pendidikan anak-anak didiknya, ia nomor satukan. Tak pernah sekalipun kudengar ia mengeluh tentang anak-anak didiknya.

Ibuku adalah pahlawanku.
Ia yang memberiku pelajaran pertama di rumah saat kecil.
Mendidikku hingga saat dewasa seperti ini.
Tak pernah berhenti mulutnya memberi petuah setiap saat. Berbagai pengajaran tentang kehidupan yang harus aku jalani ke depannya ia sampaikan.
Lanjutkan membaca “Ibuku, Kebanggaanku: Selamat Hari Ibu”

Sebuah Kenangan Dari Secangkir Kopi Hitam

Sejak semalam hujan mengguyur tak henti-henti. Hingga pagi ini, matahari masih malu-malu menampakkan senyum hangatnya.
Secangkir kopi hitam buatan bunda menjadi teman pagi ini. Sebuah kenangan lain terlintas, menguar di sela-sela cangkirku. Tentangmu, tentang aroma kopi yang kian menjauh, terempas oleh butir udara, meninggalkanku dalam sunyi yang dingin.

Lanjutkan membaca “Sebuah Kenangan Dari Secangkir Kopi Hitam”