Dalam Penjara Tradisi; Catatan Kecil Tentang Perempuan Yang Tergusur.


Mungkin, teriakan emansipasi tak menjangkau telinga mereka, mungkin juga samar-samar kedengarannya.
Atau bisa jadi warisan kultural yang mengakar kuat yang memaksa setiap perempuan-perempuan ini menerima begitu saja pola relasi yg timpang antar gender dan membuat mereka terpasung dalam diam, tanpa suara. Hanya sesekali gemeretak gigi yang mereka tunjukkan sebagai tanda protes yang tak diungkapkan.

Yah, seperti gadis yang kukenal ini dari sekian banyak gadis-gadis lain yang suaranya tak didengar, yang kehilangan pilihan untuk menentukan jalannya sendiri.
Sebut saja namanya Bunga.
Seorang gadis yang harus bertahan lebih lama menunda keinginannya, menunggu SABDA dari tetua adat dikampungnya.
Bunga adalah sahabat saya, meski berlainan kampung, kami saling mengenal sudah setahun lewat, ia adalah kekasih teman saya.

Ceritanya cukup sederhana.
Bunga hendak menikah di usianya yang ke 25 tahun. Ia sudah bekerja, begitupun calon suami yang menjadi kekasihnya saat ini.
Kesiapan lahir dan bathin telah mereka siapkan selama setahun berjalan. Bunga ingin mengakhiri masa lajangnya, agar tak timbul fitnah akibat lamanya pacaran.
Tapi sayang, keinginannya tak jua ia sampaikan. Ia takut menyalahi tradisi. Sebuah konstruksi kultural yang tak mengharuskan perempuan menyampaikan pikiran-pikirannya dihadapan lelaki.
Ia boleh bebas menentukan siapa pasangan hidupnya, tapi ia tak berhak menentukan urusan pernikahannya.

Ceritanya berlanjut, dari kesepakatan antara bunga dan kekasihnya, mereka berdua mendatangi ibu dari bunga. Sebab ayah Bunga telah lebih dulu dipanggil Tuhan.
Pembicaraan dengan sang ibu tak juga menemukan keputusan. Seperti Bunga, ibunya juga tak berdaya membuat keputusan. Jangankan mengambil keputusan, memberi pikiran kepada tetua adatnya saja tak mungkin dilakukan. “ini urusan lelaki, Nak. saya hanya seorang perempuan yang tidak bisa apa-apa”. Ada baiknya bertemu langsung tetua adat untuk menentukan seperti apa keputusannya.
**
ini hanya sebagian kecil dari penggalan cerita antara Bunga dan kekasihnya. Potret perempuan dalam kungkungan adat, yang dalam urusan keputusan pribadinya pun ia harus menyerahkan keputusannya kepada pihak lain. Dalam cerita Bunga, tentunya Tetua Adat bukanlah saudara sedarahnya, tetapi orang dalam suku yang di angkat berdasarkan kriteria tertentu.
Ironis. Keputusan tunggal di tangan Tetua Adat adalah sangat-sangat tidak adil jika konsep pernikahan diletakkan dalam perspektif pernikahan sebagai tanggung jawab orang tua atas anak.
Atau dalam konsep keadilan yang menempatkan hak laki-laki dan perempuan secara proporsional.
Tetapi apa hendak dikata, konstruksi adat yang mengakar kuat telah menjelma sebagai sebagai monster yang merenggut kebebasan personal.
Disinilah ketimpangan terjadi.

Dan Bunga hanyalah seorang dari sekian perempuan lainnya yang hadir tanpa suara.
Karena suara lelaki adalah sabda yang tak terbantahkan..

Sekian..
Lamawulo Yani.

Iklan

Penulis: sangsepi

πŸ‘‰πŸ‘‰ Saya, secangkir kopi dan kenangan. πŸ‘ˆπŸ‘ˆ

4 thoughts on “Dalam Penjara Tradisi; Catatan Kecil Tentang Perempuan Yang Tergusur.”

  1. Bang Rahmat, saya sangat bersyukur bila tulisan ini ada manfaatnya sekalipun sedikit.
    Menyangkut tradisi kami orang Kedang (tapi tidak semuanya), perempuan memang sering di kekang kebebasannya menyampaikan pikiran dan pendapat dalam urusan kawin-mawin. tapi tidak sampai pada pemaksaan kehendak orang tua seperti dalam roman-roman silam, dimana perjodohan didominasi keinginan orang tua, bukan keinginan dari si anak.

    soal pemeriksaan KUA yang berkaitan dengan status suka sama suka seperti yang abang kemukakan diatas, saya pun sangat sepakat soal itu, sebab dalam hal ini tidak boleh ada intervensi dalam urusan suka menyukai..hehe

    terima kasih bang, atas kunjungannya..

    Suka

  2. kayaknya,tulisan mas yani ini dapat menjadi cerminan rekomendasi untuk Kantor Urusan Agama (KUA) setiap kecamatan. sebab, sadar ataupun tak sadar, para aparatur KUA harus melewati rangkaian pemeriksaan calon pengantin, dalam pemeriksaan tersebut terdapat rangkaian titik – titik yang harus pasti, salah satunya perkawinan yang terjadi harus berdasarkan suka sama suka. apa lagi, rangkaian petunjuk yang jadi sandaran KUA juga mendukung titik ini. saya yakin, bila hal ini dijadikan standar yang serius pada KUA maka niscaya konsep adat yang miring tersebut dapat teratasi.

    Disukai oleh 1 orang

  3. terima kasih juga bang atas komentarnya.
    Informasi dari abang sungguh menambah refensi buat saya.
    Oia, sy dari NTT, tepatnya di kab. Lembata.
    Dan tradisi seperti ini memang masih ada di sebagian tempat saya. Ada beberapa tempat yang memang lebih terbuka dalam menerima kehadiran pikiran-pikiran baru, tp sebagianya masih dalam tradisi seperti diatas tadi.
    Saya kadang bingung melihat kondisi seperti ini, saat perempuan tak punya hak apa-apa untuk menentukan. Entahlah, mungkin ini adalah satu dari budaya kami yg dijaga terus keberadaannya, entah untuk apa. Mungkinkah ini yg dimaknai sebagai kearifan lokal ya bang?
    Saya masih samar memahaminya..

    Suka

  4. Di Jawa ada juga tradisi yg bisa menyebabkan batalnya pernikahan, walau kedua pasangan sudah sreg/cocok…
    Ada tradisi hitungan (menghitung hari kelahiran kedua belah pasangan) ketika mereka bermaksud menikah…
    Hasil/cara menghitungnya tidak semua orang bisa. Ilmu itu hanya dikuasai oleh orang2 yg paham/menguasai ilmu khusus tersebut…. walaupun semua orang bisa mempelajari, namun sangat jarang terutama generasi muda yg mempelajarinya. al hasil, hanya beberapa saja yg menguasai ilmu hitungan ini…. dasarnya adalah PRIMBON DAN KEBIASAAN2 YG BIASA TERJADI DI MASYARAKAT JAWA YANG TELAH DIYAKINI KEBENARANNYA.

    Sebagai contoh ada hasil hitungan yang bernama GOTONG KLIWON…. Jika hasil perhitungannya GOTONG KLIWON, maka dapat dipastikan mereka tdk jadi menikah… karena akan berakibat TIDAK BAIK untuk keduanya maupun keluarga mereka…..

    Dan masih banyak lagi… sayapun tidak mengetahui banyak ttg ilmu ini… yang jelas, hitung2 an seperti itu masih ada di kampung saya, di Jawa ini πŸ™‚

    nb. Hitung2 an hari ini juga digunakan oleh para pencuri lho… karena ada hitungan hari dimana mereka akan merasa aman jika mencuri pada hari yg telah dihitung tersebut…
    selain itu, hitungan2 itu juga dgunakan utk kepentingan2 lain… termasuk juga menentukan hari pindahan, hajatan, lamaran… pokoknya semua aktipitas masyarakat JAWA tak lepas dari hitung2 an tersebut πŸ™‚

    Terima kasih bang… saya jadi tambah ilmu ini… BUDAYA NUSANTARA BENAR2 LUARRR BIASA…

    I LOVE INDONESIA πŸ™‚

    Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s