Menyelami Hati


Saya bertemu beberapa orang yang menurut saya telah memberikan warna tersendiri dalam hidup saya.
Tanpa harus menyebutkan satu persatu siapa orang-orang tersebut yang saya maksudkan, saya langsung berpindah kepersoalan yang berkaitan dengan judul yg saya berikan bagi tulisan ini.
Hidup ini adalah proses. Inilah yang melatari apa yg saya maksudkan dengan menyelami hati. Sebuah proses dialektis menemukan eksistensi diri yang bagi saya sendiri; saya telah lupa dengan apa yang menjadi tujuan hidup saya. Mungkin ini bagi sebagian orang adalah hal sepele. Karna secara teoritis, tujuan hidup manusia adalah menuju yang hanif. Tapi realitasnya, hidup dalam garis edar yang benar bukan perkara mudah. Menjadi pertanyaannya adalah bagaimana mesti hidup dalam garis edar yang benar tersebut?
Saya mulai dengan konsepsi teologis yakni proses penciptaan manusia dalam rahim ibu. Dijelaskan dalam Al-Quran bahwa manusia dikeluarkan dari rahim ibunya dalam keadaan tidak mengetahui apa-apa. Lalu Allah memberikan pendengaran, penglihatan lalu hati.
Ini adalah dasar bagi proses pemahaman kita terhadap realitas sebagai ayat-ayat Tuhan.
Pendengaran dan penglihatan adalah dua alat epistemologi yang darinya proses pengetahuan ilmiah dibentuk dengan melibatkan akal dalam proses abstraksi secara deduktif ataupun induktif. Tetapi disini saya tidak hendak menjelaskan perihal proses mendapatkan pengetahun melalui dua alat epistemologi diatas. Tetapi lebih pada perihal hati. Hati bagi saya adalah sebuah alat untuk menghukumi sebuah hal sebagai baik atau tidak. Bisa juga sebagai benar atau tidak. Hal ini ini karena akal selamanya tidak selalu benar. Perihal hati diatas, dalam lapangan pengetahuan ilmiah bisa disejajarkan dengan prinsip aksiologi yang mengaitkan ilmu sebagai bebas nilai atau tidak.
Kembali kepersoalan menyelami hati. Kalau kita merujuk pada sejarah perjalanan dakwah islam oleh Rasulullah, pada periode pertama atau periode makkah dakwah yang dilakukan terpusat pada persoalan Tauhid. Meyakini Tuhan yang satu sebagai sumber segala hal didunia melahirkan konsekuensi penyembahan kita sebagai mahkluk. Tauhid yang mantap dan benar akan tercermin dalam sikap dan perbuatan. Dan inilah yang saya pahami dari Tauhid sebagai ideologi pembebasan. Sebuah proses liberalisasi yang berujung pada keyakinan yang kokoh. Lalu bagaiman melahirkan keyakinan yang kokoh. Disinilah fungsi hati. Fungsi inderawi sampai pada akal sebagai alat epistemologi hanya bekerja pada wilayah pengetahuan. Kita boleh saja memahami segala konsep penciptaan langit dan bumi, penciptaan manusia, memahami segala-galanya sebagai bagian dari kreasi Tuhan tapi kalau hati tidak digerakkan untuk meyakini, maka itu hanya sekedar pengetahuan tanpa makna. Didalam diri manusia terdapat segumpal daging, jika ia baik maka baiklah seluruh amalanya.
Bagi saya segumpal daging itu adalah hati. Hati bekerja pada wilayah suprarasional, wilayah metafisika yang melibatkan keyakinan…

Sampai disini saya bingung mengutarakan pikiran saya lagi..hehe..
Okelah, saya harus kembali pada perjalanan saya menyelami hati.
Seperti saya ceritakan diawal, saya bertemu beberapa orang yang mengenalkan saya dengan prinsip hati. Orang-orang ini dalam kesehariannya begitu luar biasa, hidupnya tidak pernah lepas dari kewajibannya menyembah Tuhan. Dari wajahnya tidak pernah tergambar kekhawatiran hidup. Tutur katanya selalu baik. Selalu memaafkan siapa saja yang menyakitinya. Dan masih banyak hal positif lainnya yang saya tangkap dari beberapa orang ini. Sekalipun manusia adalah makhluk yang tidak sempurna, yang tidak luput dari salah, tapi mereka selalu melakukan introspeksi. Dan mereka inilah yang telah mewarnai hidup saya dengan sedikit ilmu yang telah mereka titipkan ke saya. Sekalipun saya tidak seperti mereka, tetapi saya sedang berupaya agar bisa melakukan perubahan-perubahan kecil dalam hidup saya yang berantakan ini.
Sahabat yang baik adalah yang bisa menjadi cermin bagi diri kita.
Karena dengan mengenal orang-orang ini, saya belajar untuk hidup yang lebih baik, lebih positif, dan selalu optimis bahwa masih ada harapan yang bisa saya raih ditengah hidup saya yg tidak menentu ini.

Sekian.
Maaf bila tulisan saya belum maksimal, tidak terstruktur dengan baik. Saya memang ingin sekali menulis dg baik, tapi beginilah saya..:)
#Lamawulo Yan

Iklan

Penulis: sangsepi

👉👉 Saya, secangkir kopi dan kenangan. 👈👈

3 thoughts on “Menyelami Hati”

  1. Mas Bro Darsono, terima kasih kunjungan serta penguatannya.. Hidup mmng tak semudah ucapan, benar sekali mas. Tetap semangat dlm berkarya mas..

    Abg Rahmat, terima kash pula bwtmu. Tentang hati, ini hanyalah pikiran sederhana saya.
    Saat tak ada siapapun yg bisa sy ajak berbagi pikiran, sy menulis. Menuangkan apa yg sy pahami dlm kedangkalan pikiran sy.

    Salam santun dari sy bg..

    Suka

  2. tulisan ini rupanya cukup dahsyiat untukku dan semoga untuk pembaca yang bisa baca….aku rasakan tusukan – tusukan ribuan jarum jahit pada maqam altar hatiku saat membaca tulisan ini, hati yang kumaksudkan ini adalah Fuad (rujukan pada Qs An Nahl : 78) atau kalau boleh diindonesiakan maka berarti jiwa terdalam. tepat dengan grand topik bahasan tulisan ini. Entahlah, mengapa Mas Yani dapat berkesimpulan Hati adalah suatu alat epistem penghukuman banar dan salah. namun, terlepas dari itu kedudukan Fuad merupakan Alat epistem juga hanya proses yang dilakukannya adalah pembersihan jiwa.
    Dahsyiat tulisan ini……dan akupun ikut terledakkan…

    Suka

  3. Yes!
    semangat mas bro!

    Hidup memang tiada semudah kalimat manisnya oom Mario Teguh… tapi setidaknya, apa2 yg disampaikan oleh sahabat, teman, ataupun para motivator dapt membikin semangat kita utk meraih kesuksesan dan kebahagiaan di dunia semakin terpacu…….

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s