Membaca THE AGE OF REASON – JEAN PAUL SARTRE


Novel ini saya beli 5 tahun yang lalu, tepatnya tanggal 02 Maret 2010 di toko Buku Suci, Kupang. Selama hampir 5 tahun pula, novel ini hanya mengendap dalam almari buku saya tanpa tersentuh. Seingat saya, saya membacanya ketika pada awal-awal pembelian pertama buku ini, dan jujur saya tidak memahaminya waktu itu (sekarangpun hampir sama,hehe). Tapi beberapa hari ini, saya terus saja membolak balik tiap lembarnya, berusaha memahai semampu saya gagasan-gagasan sartre tentang Eksisitensialisme, absurditas, dan kebebasan.
Dan tulisan pendek ini, sekedar catatan kecil saya tentang novel ini, The age of Reason.
Semoga kita senantiasa saling belajar dan memberi masukan.

***

The Age Of Reason merupakan novel pertama Sartre dari trilogi yang ditulisnya yaitu Road to Freedom. Dua novel lainnya adalah The Reprieve dan Troubled Sleep.
Novel ini bercerita tentang sosok Matheu, seorang profesor filsafat yang begitu terobsesi dengan ide kebebasan ditengah bayang-bayang Perang Dunia Kedua. Serangkaian gagasan tentang kebebasan sangat menonjol dalam novel ini. Hal ini karena bagi seorang Sartre, kebebasan adalah sesuatu yang mutlak. Manusia telah dikutuk menjadi bebas, lanjutnya lagi.
Lewat tokoh Matheu, sartre mengumumkan kepercayaannya pada kebebasan. Bahwa manusia mesti bertanggung jawab atas segala tindakannya sendiri, bukan mencari alasan pada nasib atau sebab-sebab diluar dirinya. ” Kewajiban seseorang adalah melakukan apa yang ingin ia lakukan, memikirkan apa pun yang disukainya, dan tidak bergantung pada orang lain, melainkan pada dirinya sendiri”.
Pencaharian akan kebebasan begitu tampak pada dialog-dialog awal matheu.
“jika aku tak mencoba mengambil tanggung jawab atas eksistensiku, absurd rasanya untuk terus ada” (hal. 13)

Sepanjang novel, absurditas begitu terasa dan itu tampak pada tokoh-tokoh rekaan sartre yang menjalani hidup dengan kesinisan.
Ceritanya berwal ketika matheu mendapati kekasihnya Marcelle sedang hamil setelah 7 tahun mereka bersama. Hanya karena tidak ingin menikah, pilihan untuk menggugurkan kandungan melahirkan pergulatan dalam diri Matheu. Antara keinginan untuk menggugurkan dan kekhawatiran pada proses menggugurkan yang berarti melakukan pembunuhan terhadap bayi yang tak bersalah.
” Seekor lalat lebih mudah dibunuh daripada seorang anak. Aku tidak akan membunuh siapa pun. Aku hanya mencegah seorang anak untuk lahir”. (Hal. 55)

Sepanjang Novel inipun, serangkaian pertanyaan-pertanyaan perihal kehidupan ditampilkan. Seluruh pertanyaan yang tak akan pernah selesai untuk dijawab. Hidup, mati, tangis, tawa, selalu saja berdampingan. Seperti kepingan mata uang logam, saling memunggungi tapi sebenarnya menyatu.
Dan di akhir novel ini, matheu memang tak menikahi marcella pacarnya bahkan tak juga menggugurkan kandungannya. Yang menikahi marcelle justru orang lain.

***
Jean Paul Sartre tidak saja membicarakan kebebasan dalam diskursus ilmiah, tapi menjadikan itu sebagai gaya hidupnya. Ini tergambar dari hubungan dekatnya dengan Intelektual Feminis Simone de Beauvoir yang juga dikenal sebagai kekasih abadinya. Sartre tak pernah menikah secara resmi.

SEKIAN.
maaf bila belum tuntas sajiannya,hehe..
Mohon masukannya bila membaca tulisan ini.
#Lamawulo Yani

Iklan

Penulis: sangsepi

πŸ‘‰πŸ‘‰ Saya, secangkir kopi dan kenangan. πŸ‘ˆπŸ‘ˆ

3 thoughts on “Membaca THE AGE OF REASON – JEAN PAUL SARTRE”

  1. Makasih #errymegaherlambang untuk kunjungan dan komentarnya.
    Saya berkenalan dengan tulisan2 sartre baru2 ini dan sedikit gagasan2nya yang tertuang didalam novel baru saya pahami. Tema2 kebebasan, Absurditas, Eksistensialis adalah ciri khas sartre.
    Tapi membaca novel2nya yang penuh dengan gagasan marxisme, sya belum..hehe
    hanya lewat beberapa artikel yang saya jumpai, sy mengenal sartre yang begitu dekat tulisannya dengan kaum2 proletar. Kebebasan yang diidam2kan sartre menjadikan tulisannya sebagai medium perlawanan terhadap borjuis prancis saat itu,.
    Makasih erry, salam kenal dan salam persahabatan..

    Suka

  2. Menarik reviewnya. saya juga sempat bersentuhan dengan tulisan-tulisan sartre ketika masih duduk dibangku kuliah dulu.
    Sartre memang orang yang mengejutkan dengan ciri gagasan sosialisme yang melekat dalam setiap tulisan-tulisanya.
    Tema-tema penindasan, kolektivitas, kebebasan, filsafat seolah tidak bisa dilepaskan dari diri sartre.
    Dulu di fakultas FISIP sedikit sekali orang yang kenal dengan Sartre. kebanyakan teman-teman dari Sastra / Humaniora yang menikmati karya-karyanya.
    …oh yah kalau soal kebebasan, saya pribadi tidak percaya akan hal itu. sejauh apapun kita mencoba berusaha bebas, sedekat itulah kita pada ketidak bebasan itu sendiri. Hasrat, power, lembaga, agama, sistem sosial menciptakan rantai ketidak bebasan pada manusia yang terstruktur dan masive.
    contoh sederhananya saja, ketika saya menulis koment di blog anda, gagasan dan value mengekang saya untuk membatasi cara saya menulis dan menyampaikan ide.
    Best Regards.

    Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s