Potret Kehidupan Dari Desa


Pagi ini, masih diselimuti dingin mereka tinggalkan kampung mereka yang jauh. Sekitar 90 KM dari kota kabupaten.
Tak ada yang lain yang dibicarakan, selain harapan-harapan kecil, berharap ayam-ayamnya terjual habis hari ini, sayur-sayurnya, buah-buahnya. Dan mereka bisa pulang dengan wajah ceriah, di sambut anak-anaknya yang menunggu sebungkus hadiah yang tak seberapa.
Pagi ini,
di tengah semangat mereka yang menyala-nyala saya terpaku, hanya sesekali tersenyum mendengar kisah mereka tentang harapan anak-anak mereka yang juga harapan mereka. Anak-anaknya ingin di kuliahkan kelak, atau minimal bisa tamat SLTA, itu saja. Itu saja harapan mereka.
Tak kulihat kebimbangan-kebimbangan diwajah orang-orang sederhana ini.

Langkah mereka mantap, penuh semangat.
Mereka tidak peduli, atau mungkin tidak tahu kalau rupiah yang dipakai tiap hari sedang anjlok, mereka tidak peduli, ada ribut di Dewan sana gara-gara usul si Menteri baru.

Mereka orang-orang kecil, dengan keinginan-keinginan yang kecil pula. Melewati pagi dengan semangat menyala. Mereka menyambut matari dengan rasa syukur, sekalipun mereka tau bahwa hasilnya tak seberapa, hanya agar dapurnya bisa mengepul, demi sesuap nasi untuk anak-anaknya..

Dan di pagi saya belajar dari mereka, tentang semangatnya, tentang impiannya, tentang usaha-usahanya, dan tentang cara mereka mengubah yang getir menjadi manis..

Hidup ini adalah perjuangan, survive atau mati..

@Pagi ini dalam bis antar kecamatan, Kedang-Lewoleba..

* Lamawulo Yani

Iklan

Penulis: sangsepi

👉👉 Saya, secangkir kopi dan kenangan. 👈👈

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s