TERLALU JAUHKAH SAYA DARI TUHAN?? #SEBUAH RENUNGAN PRIBADI

Setiap orang selalu memimpikan hidup tenang yang mana batinnya senantiasa merasakan kedamaian.
Setiap orangpun memiliki perspektif sendiri-sendiri terkait jalan menggapai kedaimaan tersebut atau kebahagiaan.
Sebagian orang mencari sumber kedamaian dengan menggali inti dari ajaran agama. Sebagian lainnya mencoba menemukan kebahagiaan lewat pemenuhan kebutuhan material secara terus menerus. Dan masih banyak lagi yang lainnya. Masing-masing punya argumentasi tersendiri untuk merasionalisasikan tindakannya.
Dan saya?? Dimanakah saya diantara golongan-golongan tersebut?
Rasanya saya hanyalah sebuah kehadiran tanpa keinginan untuk mengada. Benarkah? Saya juga tidak begitu memahami peroalan hadir dan mengada, sebuah proses eksistensial yang sering dibahasakan para filsuf.
Saya mengaku beragama. Saya mengenal Tuhan sebagai kreator tunggal yang tak tertandingi. Saya mengenal Tuhan sebagai yang dekat bahkan lebih dekat dari urat leher saya sendiri. Tapi kenapa, kegelisahaan selalu saja menyerobot hampir semua dimensi dari diri saya?
Kenapa kehampaan hidup selalu mengisi rongga-rongga dada saya??
Begitu jauhkah saya dari Tuhanku? Bukankah Dia maha dekat dan senantiasa hadir?
Inikah kehampaan spiritual masyarakat modern??
Ataukah ini adalah kekalahan saya dihadapan Iblis yang terus menerus meneror diri saya?
Yah, bisa jadi, Adam pun pernah demikian.
Tapi saya ingin kembali. Saya ingin setiap sujudku menjadi bermakna. Tetapi kenapa begitu sulit?
Kenapa??
Atau karena saya yang tidak mengenal Tuhan dengan kesadaran murni?
Lalu bagaimana caranya?
Saya bersujud, tapi sama rasanya.
Sudah tertutupkah mata hati saya akibat noda yang melekat dan hitam pekat hingga sulit ditembus cahaya?
Lalu bagaimana?
Apakah penyucian ciwa, semacam khatarsis yang membingungkan.
Ah, saya tidak tahu lagi.

Mungkin, Manusia memang di ciptakan dengan keadaan seperti ini. Mungkin juga Tuhan memang sengaja menghadirkan kita dalam dalam pertarungan, konflik eksistensial yang tak berujung dan berkesudahan. Agar kita terus mencari, berusaha menemukan realitas sesungguhnya dalam perangkap-perangkap psikologis. Dalam labirin-labirin kesadaran semu.
Tapi Entahlah..
Ada benarnya mengakui.
“Aku adalah apa yang di sangkakan oleh Hambaku tentang Aku”.

Sekian.
Salamku
Lamawulo Yan

Iklan

Membaca THE AGE OF REASON – JEAN PAUL SARTRE

Novel ini saya beli 5 tahun yang lalu, tepatnya tanggal 02 Maret 2010 di toko Buku Suci, Kupang. Selama hampir 5 tahun pula, novel ini hanya mengendap dalam almari buku saya tanpa tersentuh. Seingat saya, saya membacanya ketika pada awal-awal pembelian pertama buku ini, dan jujur saya tidak memahaminya waktu itu (sekarangpun hampir sama,hehe). Tapi beberapa hari ini, saya terus saja membolak balik tiap lembarnya, berusaha memahai semampu saya gagasan-gagasan sartre tentang Eksisitensialisme, absurditas, dan kebebasan.
Dan tulisan pendek ini, sekedar catatan kecil saya tentang novel ini, The age of Reason.
Semoga kita senantiasa saling belajar dan memberi masukan.

***

The Age Of Reason merupakan novel pertama Sartre dari trilogi yang ditulisnya yaitu Road to Freedom. Dua novel lainnya adalah The Reprieve dan Troubled Sleep.
Novel ini bercerita tentang sosok Matheu, seorang profesor filsafat yang begitu terobsesi dengan ide kebebasan ditengah bayang-bayang Perang Dunia Kedua. Serangkaian gagasan tentang kebebasan sangat menonjol dalam novel ini. Hal ini karena bagi seorang Sartre, kebebasan adalah sesuatu yang mutlak. Manusia telah dikutuk menjadi bebas, lanjutnya lagi.
Lewat tokoh Matheu, sartre mengumumkan kepercayaannya pada kebebasan. Bahwa manusia mesti bertanggung jawab atas segala tindakannya sendiri, bukan mencari alasan pada nasib atau sebab-sebab diluar dirinya. ” Kewajiban seseorang adalah melakukan apa yang ingin ia lakukan, memikirkan apa pun yang disukainya, dan tidak bergantung pada orang lain, melainkan pada dirinya sendiri”.
Pencaharian akan kebebasan begitu tampak pada dialog-dialog awal matheu.
“jika aku tak mencoba mengambil tanggung jawab atas eksistensiku, absurd rasanya untuk terus ada” (hal. 13)

Sepanjang novel, absurditas begitu terasa dan itu tampak pada tokoh-tokoh rekaan sartre yang menjalani hidup dengan kesinisan.
Ceritanya berwal ketika matheu mendapati kekasihnya Marcelle sedang hamil setelah 7 tahun mereka bersama. Hanya karena tidak ingin menikah, pilihan untuk menggugurkan kandungan melahirkan pergulatan dalam diri Matheu. Antara keinginan untuk menggugurkan dan kekhawatiran pada proses menggugurkan yang berarti melakukan pembunuhan terhadap bayi yang tak bersalah.
” Seekor lalat lebih mudah dibunuh daripada seorang anak. Aku tidak akan membunuh siapa pun. Aku hanya mencegah seorang anak untuk lahir”. (Hal. 55)

Sepanjang Novel inipun, serangkaian pertanyaan-pertanyaan perihal kehidupan ditampilkan. Seluruh pertanyaan yang tak akan pernah selesai untuk dijawab. Hidup, mati, tangis, tawa, selalu saja berdampingan. Seperti kepingan mata uang logam, saling memunggungi tapi sebenarnya menyatu.
Dan di akhir novel ini, matheu memang tak menikahi marcella pacarnya bahkan tak juga menggugurkan kandungannya. Yang menikahi marcelle justru orang lain.

***
Jean Paul Sartre tidak saja membicarakan kebebasan dalam diskursus ilmiah, tapi menjadikan itu sebagai gaya hidupnya. Ini tergambar dari hubungan dekatnya dengan Intelektual Feminis Simone de Beauvoir yang juga dikenal sebagai kekasih abadinya. Sartre tak pernah menikah secara resmi.

SEKIAN.
maaf bila belum tuntas sajiannya,hehe..
Mohon masukannya bila membaca tulisan ini.
#Lamawulo Yani

Potret Kehidupan Dari Desa

Pagi ini, masih diselimuti dingin mereka tinggalkan kampung mereka yang jauh. Sekitar 90 KM dari kota kabupaten.
Tak ada yang lain yang dibicarakan, selain harapan-harapan kecil, berharap ayam-ayamnya terjual habis hari ini, sayur-sayurnya, buah-buahnya. Dan mereka bisa pulang dengan wajah ceriah, di sambut anak-anaknya yang menunggu sebungkus hadiah yang tak seberapa.
Pagi ini,
di tengah semangat mereka yang menyala-nyala saya terpaku, hanya sesekali tersenyum mendengar kisah mereka tentang harapan anak-anak mereka yang juga harapan mereka. Anak-anaknya ingin di kuliahkan kelak, atau minimal bisa tamat SLTA, itu saja. Itu saja harapan mereka.
Tak kulihat kebimbangan-kebimbangan diwajah orang-orang sederhana ini.
Lanjutkan membaca “Potret Kehidupan Dari Desa”

Dunia Jungkir Balik..hehe

#Edisi Coret-coret

***

Sekarang ini, interaksi kita jarang terjadi dunia nyata. Berbagai Media Sosial seperti Facebook, Twitter, Instagram dan masih banyak lainnya telah menggantikan bahkan memudahkan proses kita bertemu dan bertukar pikiran ataupun sekedar berbagi cerita. Berbagai aktifitaspun muncul di media-media ini.
Setia orang mengekspresikan dirinya dengan berbagai carannya sendiri. Hampir semua persoalan hadir menghiasi halaman depan media-media ini. Status-status berseliweran,hehehe…, foto-foto berlompatan dari satu dinding kedinding lainnya.
Ah, ini dunia tanpa jarak, tanpa batas. Segalanya bisa terjadi dalam satu waktu.
Dunia ini (dunia maya) memang telah menggantikan yang reel. Setiap orang bisa saja mempercayai orang lalin sebagai pribadi tertentu (bijak misalkan) hanya karena orang tersebut dalam tiap postingannya selalu dengan kata-kata bijak.
Seorang KORUPTOR bisa saja diangap bersih hanya karena tiap komentar-komentarnya selalu menganggap koruptor sebagai musuh bersama. Apalagi kalau ia adalah pejabat tinggi yang sulit dijamah (Hukum ibarat pisau, tajam kebawah, tumpul keatas).
Ah.. Sangat sulit menentukan benar dan tidak benar didunia seperti ini.
Semua orang dengan pikiran dan argumentasinya yang kelihatan sungguh rasional.
Ohhh.. Saya jadi bingung..
Apakah orang-orang yang menciptakan ruang-ruang seperti ini memang sengaja menghadirkan dunia yang seperti jungkir balik, tumpang tindih seperti ini agar setiap orang bisa hadir dengan tampilan yang berbeda, dengan topeng(kamuflatif)??????

Entahlah…

Arti Sebuah Kemerdekaan

Apakah itu kemerdekaan? Kemerdekaan adalah bebas, berdaulat, adil dan makmur.
Kemerdekaan adalah harga mahal yang telah ditebus dengan darah dan cucuran air mata.
Kemerdekaan adalah mimpi kita bersama.
Lalu sudah merdekakah kita??

Che Guevara memberi defenisi lain tentang kemerdekaan. Kemerdekaan baginya, tidak diukur dari harga sebuah bendera, tapi kemerdekaan diukur sejauh mana nilai-nilai merdeka itu di implementasikan. Menyambung hal itu, viktus murin dalam Mencari Indonesia, Balada Kaum Terusir mempertegas lagi arti kemerdekaan.
Kemerdekaan adalah penjajahan bentuk baru jika tak dapat menjadi pintu gerbang untuk menolong seluruh bangsa hidup layak sebagai manusia.
Jika demikian adanya, apakah kita sudah bisa dikatakan merdeka??
..
Sekian.