BUBBLE TOWN


***
Siang ini, rasanya udara kurang bersahabat denganku, tertatih kutelusuri teriknya matahari disepanjang koridor jalanan kampus yang mulai ramai kendaraan. Sebuah siluet terasa memayungi kepalaku yang kian gerah. Serta merta ku tengadah menemui si pemilik siluet. Tatapanku terbentur pada senyum jenakanya, sesaat aliran damai membanjiri nuansa hatiku. Aku tercekat menahan debaran kalbuku yang nyaris membeludak memuntahkan kesan terpesonaku.
“Sorry, tanganku kurang besar memayungimu.”
“He’eh makasih, lebih dari cukup kok.”
“Oya?! Berarti pas dong . . . hehehee
“Yep . . .!” bantahku gugup
“Mau pulang?”
“Belum.”
“Lalu, mau kemana? Suhu cukup ekstrem loh, bisa-bisa kamu jadi telur rebus. . . heheheheh”
“Hehehe tak mengapa,asal bukan kamu yang menghabisiku. Aku mau ke perpustkaan.”
“Ada tugas?”
“Perpustakaan bukan tempat mencari tugas kan?”
“Hemmm, iya Bu guru, sorry sudah menjudge.”
“Heeh Cuma bercanda kok. Aku mau cari referensi Psikososial, ada tugas hehehe . . .”
“Hemmm dasar. . boleh aku temani kesana?”
“Sejak tadi kamu sudah menemaniku, kenapa baru memintanya sekarang?”
“He’eh iya. Tapi boleh kan?”
“Woi, belum ada undang-undang yang melarangmu menemaniku kan?”
“Jadi, boleh kan?”
“Iyaaa Bubble town.”
Sepeninggal dosen Psikometri, mataku langsung mendapati layar androidku. Segera ku baca short message bubble town ; “I’m waiting you – home cafe at 11.00. Kulirik jamku. Secepat mungkin aku berlari menyeruak beberapa mahasiswa yang tengah bergerombol di sepanjang lorong kampus. Sambil terengah-engah aku meletakan tasku,dan menempati kursi di sampingnya.
“Ada yang mengejarmu?”
“Aku telat, sorry. . .”
“Bicaramu berantakan. Hehehe, santai Aku sedang tidak terburu-buru.”
“Iya, sudah paham.” Desisku kaku.
“Kesal?”
“Iyaaa,”
“Semoga bukan denganku.”
“Amin!”
“Hehehe sorry, sorry, sorry. . jangan cemberut begitu. Emmm, Aku punya koleksi lego terbaru, di kirim kemarin dari singapura.”
“Hah??, Sejak kapan Aku menyukai lego? Dan tentunya kamu memanggilku bukan untuk membahas lego kan?? Hehehe . . .”
“Nah itu dia, Aku mau mulai sekarang kamu menyukai lego. Manfaatnya banyak buat refress computer di kepalamu. Hehehe . . .”
“Huhhft, please, Aku sedang mengerjakan banyak hal. Katakan ada apa memanggilku??”
“Menunjukkan legoku, heheehee.”
“Aku serius!”
“Hehehehe, iya please jangan melotot begitu. Aku bisa mimpi buruk tau?! Emmm, tapi beri pujian untuk legoku dulu dong . . hehehe, pujian darimu bisa membawa perubahan buat negaraku.”
“Iyaa Mr Bubble, legomu good.. puas?”
“Ya ya itu bagus . . hehehe, sebenarnya ada yang mau Aku katakan kepadamu, hanya saja . . . aku tidak yakin, apakah sekarang waktu yang tepat untuk menyampaikannya?”
“Emmm,,, jika itu untuk kebaikanku. Katakan sajalah.”
“Sebenarnya….”
My love that’s only you in my live… sambil merapatkan sweater, ku kerahkan langkahku yang nyaris bergemeletukan melewati butiran-butiran salju yang terus berjatuhan memenuhi area boulevard St Marry Notre Dame. Setahun sudah aku menjalani rutinitasku sebagai social worker untuk penderita HIV AIDS. Aku tergabung dalam komunitas kampus yang bekerja sama dengan AIDSina Foundation bergerak di bidang penanggulangan HIV AIDS. Dan sudah setahun, aku menjadi duta dari negaraku untuk Notre Dame yang rencanya beberapa bulan ke depan Team gabungan kami akan berangkat ke Afrika Barat. Sebuah ranting pinus jatuh dan mengenai bahuku, membuyarkan anganku barusan. Ku tatapi Ipadku yang masih mengumandangkan lagu ‘Endless Love’ Luther Vandross ft Mariah Carey. Aku merindukan kampusku. Sesaat haru menyergapi kalbuku, ada sesuatu yang tertinggal disana. Bersemayam dalam diamku dan kadang hadir mengusik pelarianku.
“jika cinta tidak dapat mengembalikan engkau kepadaku dalam kehidupan ini… pastilah cinta akan menyatukan kita dalam kehidupan yang akan datang” Ku lipat kembali secarik kertas itu dan memasukkannya ke loker ku. Suasana kondomium makin sepi, dari balik tirai yang setengah terbuka Aku mematung menatapi bintang yang separuh tertutupi kabut, sekali lagi kenangan itu menari kembali di depan mataku. Wajah yang begitu riang melarikan novel ‘sepuluh anak negro’ Agatha Christi yang tengah ku baca, dengan geram, kukejarnya yang terus saja berlari melewati gerbang kampus. Setengah berteriak, Aku mengakui kekalahanku.
“Heheehe, menyerah juga rupanya.”
“Enough Bubble, aku capek. Please kembalikan novel itu.”
“Okey, aku akan mengembalikkannya langsung ke perpustakaan kan?”
“Humormu sangat tidak bermutu.”
“ Hehehe,, santailah grenggocherry… aku tidak sekejam itu kok. Nih ambil.” Ucapnya seraya menyodorkan novelku.
“Huhhtfz, dasar Bubble!”
“Eh, ada yang mau aku tunjukkan kepadamu. Ayo ikut.” Ajaknya menarik tanganku
“Arrgghh, tidak.. lagi banyak tugas. Paling-paling kamu mau menunjukkan legomu lagi kan? I’m so sorry, aku tidak berminat!” bantahku melepaskan tanganku.
“Ahhh, ikut saja. Cerewet!”
“Tapi… Bubble…”
“Aku jamin, ini tidak merugikanmu.”
Ruangan itu berukuran 3×3. Ada haru yang menyelinapi lubuk hatiku. Lukisan-lukisan abstrak memenuhi ruangan di hiasi miniature bubble berbagai ukuran dan penuh warna cerah. Aku mengerti sekarang,mengapa Ia memintaku memanggilnya ‘Bubble’ saat berkenalan pertama kali usai konferensi AIDSIna foundation. Aku tidak tahu mengapa, aku mendapat kekhususan memanggilnya begitu. Sikap nyamannya membuatku tidak ingin bertanya lebih lanjut saat itu. Selang beberapa waktu kemudian, ku ketahui Bubble adalah ketua organisasi unit kegiatan mahasiswa korps sukarela spesifikasi HIV AIDS dikampusku. Rasa nyaman dan simpatiku berbaur menyatu dalam kesan positifku terhadap figurnya. Aku pun tidak memusuhinya, manakala ia memanggilku ‘grenggochery’ di sela technical meeting persiapan home visit di salah satu pusat rehabilitasi HIV AIDS. menurutnya nama ‘gregoricherena’ terlalu sukar dan tidak nyaman untuknya. Dan sejak saat itu aku mandapat nama baru darinya selain pemberian dari kedua orang tuaku.
Aku tercekat memandang semua keadaan itu. Sebuah sentuhan lembut menepuk punggungku,menyadarkanku dari ritme slow motionku. Senyum yang menyejukkan menghiasi wajah yang tak jarang mengusik anganku. Aku akan merugi jika detik itu kulewati tanpa balasanku. Aku sadar sepenuhnya akan debaran yang makin menggetarkan ragaku, tak bisa ku pungkiri rasa sesungguhnya yang sedang terjadi. Aku mengaguminya seutuhnya. Nyaliku tertelan dalam ketakutanku, aku takut akan kehilangan selamanya senyum itu jika, hasratku di ketahuinya. Aku menyesal harus berdiri di hadapannya saat ini dengan sejuta gejolak dan dengan mudah disadarinya. Di rengkuhnya tubuhku yang gemetar dalam rengkuhannya seutuhnya, aku larut dalam ketulusan tak terperi. Sesuatu telah terjadi, aku membiarkan semua itu berjalan sebagaimana mestinya. Sesaat aku menyadari, aku bukan apa-apa untuknya. Aku hanyalah pengagumnya, biarlah rasa itu menghiasi tiap jejakku, aku menyesal telah mewarnai kehidupannya. Kini apa yang mampu kulakukan demi menebus lara yang terpatri di benaknya? Aku mencoba mendiamkan amarah yang tak jua padam, salahkah rasa ini hadir untukku? Biarkan sedetik, aku ingin memegang lelahnya dalam dingin hasratnya. Aku tak mampu mengumpulkan butiran Bubble yang hancur berkeping di telapak tanganku. Aku memilih berlari meninggalkan hati yang nyaris utuh ku genggam, tentangnya ada di benakku menuai ketakutan pada sosoknya.
“Apakah, aku boleh menemanimu?”
“Tentu saja boleh.”
“Tapi, hanya sampai di area parker.”
“Kenapa?”
“Tak mengapa, sedikit berinferioritas saja hehehee . . .
“Hemmm, oke. Tak masalah.”
“semoga menjadi relawan yang professional disana.”
“Thanks, doakan ya….”
“Hehehee iya.”
Saat itu, saat terakhir aku melihatmu. Melihatmu melangkah menjauh dariku. Langkahmu begitu yakin. Sekali kau menoleh kebelakang melihatku, tersenyum padaku. Senyuman terakhir, mungkin. Sejak itu kau tak pernah tersenyum lagi padaku. Email itu pun segera kututup. Aku gerah merasakan sesak di dadaku. Lagi-lagi kemelut hatiku merambah sukma. Nada ponselku terdengar seakan raungan lonceng kematianku. Dengan nanar kuraihnya. Suara renyah ku dengar riang dari seberang. “Aku di Notre Dame sekarang, aku ingin menemuimu.” Dengan enggan ku sembunyikan wajahku dalam selimutku. Aku tahu, ia mencariku. Dan haruskah aku menemuinya guna hasratku yang tak mungkin?
Dan salju pun kembali berjatuhan mengubur taman dalam sunyi. Aku menekuri kamar yang menyatukan dua helai nyawa. Tanpa keceriaan yang lenyap di gusur waktu, sesekali tatapanku bertautan serasa sedang membahasakan kalbu yang semestinya. Aku meronta dalam gulana, “Tuhan, tak seharusnya Dia Kau ambil” genggaman itu membuyarkan lamunanku. Senyum miris dari pembaringan menambah giris hatiku yang kembali berdarah tercabik kenyataan, aku kian tak mampu menanggung luapan amarahku.
“Aku mencintaimu Bubble!! Raungku dalam dekapannya.
Wajah yang kian pias bertekuk luruh menatap iba pada hati yang perlahan membuncah redup. Kuraihnya sekali lagi dalam dekap, aku ingin memegang lelah itu sekali lagi sebelum bintang senja membawa pergi senyumnya kepada keabadian. Ku biarkan bara di dadaku membuncah menemani senja yang kian merapat di penghujung waktunya. Bias-bias semu bermunculan seakan tak sabar menantiku berfrasa naluri. “Aku melepasmu dalam damai nan abadi. Di penghujung senja ku turut menemanimu menemui kenyataan yang ‘kan memisahkan nyawa kita.” Sesaat hembusan nafasmu membuai selembar kenangan di benaku. Kenangan akan kecelakaan maut yang nyaris takkan mempertemukan aku dan dirinya. Transfuse darah meracuni raganya hingga detik kini, darah penderita HIV AIDS melebur dalam raganya menjadikannya kronis hingga dalam pelukanku kini. Tentangnya telah menjadi bagian dariku, kuketahui saat semuanya sudah terlambat, aku terlambat menarik pena yang dengan mudah ku torehkan dalam berkas-berkas hatinya yang sudah dikuburnya saat terindikasi ‘Odha’ Aku terlambat mereka-reka tafsirannya, kini raganya akan segera pergi meninggalkanku dengan seberkas lara yang ‘kan mematahkan hatiku. Aku kan sendiri menjalani impian tentangnya.
Sesaat tubuhnya bergerak merapat dalam dekapanku, mempererat rengkuhanku. Jiwaku turut gelisah, meyakinkannya bahwa semua kan baik-baik saja sekalipun gentarku belum sepenuhnya ku redam, satu persatu kekuatanku musnah, berderak buncah dalam pecah ratapku saat tubuh itu pulas dalam pangkuanku. Dan,, Ia pun pergi dalam senyum terakhirnya. Meninggalkan airmataku yang perlahan membeku dalam kebekuan salju senja Notre Dame. Bubble Town, perlahan membeku dalam seberkas cahaya lilin di depan pigura yang tak lekang tersenyum manis pada setiap tatapanku. Tentangnya ada di benakku, dan, takkan mudah ku tukar tentangnya dengan apapun. . . .

#Felice Keraf

Iklan

Penulis: sangsepi

👉👉 Saya, secangkir kopi dan kenangan. 👈👈

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s