AKU TAK SENDIRI


***

‘’Sekalipun papa dan mama meninggalkanmu, tetapi Tuhan tak meninggalkanmu………’’

Malam ini, entah sudah kesekian kali aku mencoba memejamkan mataku, memenjarakannya dalam buaian mimpi yang lebih baik, namun rupanya rasa kantuk itu belum bersedia melepaskan penatku. Lambat laun serangga malampun nyaris berhenti bersuara lantaran malam yang kian pekat. Tak terasa detak jarum jam menerobosi angka sebelas lebih seperempat. Dari balik bantal yang memangku hamper separuh badanku terdengar getar ponselku. Dengan malasnya kuraih ponsel tersebut dan segera menyadari penelpon yang mengusik ponselku itu. Kupelototi saja nama yang ada di layar ponsel itu, karena enggan menyambut panggilannya. Makin lama engganku bersarang makin dalam pula rasa bersalahku. Rupanya aku masih waras juga bila mengacuhkannya dan segera saja kusambut panggilan itu karena khawatir ponselku pasti meledak secepatnya jika kubiarkannya bergetar sedetik lagi.

            ‘’woi….! Masih hidup kan?!!’’ maki orang itu.

‘’sorry Er, lagi ke toilet tadi. ‘’

‘’Impor-Ekspormu lancer!’’ ejeknya.

‘’he-eh sorry ada apa?!’’

‘’Lagi cari staf ekspor nonmigas terhandal!’’ ejeknya lagi.

‘’Aku serius Er, ada apa sih?!’’

‘’Emm…Tidak ada apa-apa kog, cuma ingin tahu kabarmu saja…’’

‘’Hu..uh.. full schedule ya? Hehehe…kabar hari ini atau besok?’’

‘’Kemarin, hari ini, dan besok! Keburu kiamat tahu?!’’

‘’Lalu…?’’

‘’Yang pastinya kabarmu selama ini sampai detik ini!’’

‘’He..eh, tenang Bung..keburu uban nanti, kabarku baik tidak kurang dan tidak lebih.. hehehe top stabil hehe..’’

‘’Ho..oh, lalu  kuliahmu lancer kan?’’

‘’yepp..lancar…’’

‘’Sudah mids?’’

‘’ Iya..sudah UAS juga kog!’’

‘’Hasilnya?!’’

‘’Hemmm..minim!’’

‘’kog minim?! Katamu lancer kan?!’’

‘’Iya kuliahku lancer, kan Cuma buat absensi..selebihnya apa coba?!’’

‘’Huh, kamu selalu begitu! Cobalah ubah sedikit prinsip itu! Aku tahu kamu pintar, tapiselama prinsip itu masih mengekangmu percuma saja label itu ada padamu.’’

‘’Lalu, maumu, aku harus bagaimana?’’

‘’Ubah prinsip dan pertahankan prestasi.”

‘’Aku tidak butuh prestasi! Dengan prinsip itu sudah bisa membuatku bertahan!’’

‘’Bertahan? bertahan atas apa?! Apakah menurutmu tidak berdamai dengan orangtua merupakan sebuah prinsip?! Itu egois! Sampai kapan kau bertahan dengan semuanya itu?! Mengertilah, mereka mencintaimu hanya saja caranya yang berbeda.’’

‘’Cukup Erick, kamu tidak tahu apa-apa! Apakah menguburku di perkulihan ini merupakan cara mereka mencintaiku?! Erick kamu lupa satu hal! Aku cacat!!!’’

Diluar, malam semakin larut dalam kemelut kelamnya yang suram. Angin yang berhembus dari balik jendela menyusup perlahan, mengusik dingin yang terus menggerogoti pikiranku. Kupijati perlhan keningku yang terasa pening. Sambil menerawang, menghitung garis-garis plavon kamar, nalarku berpindah pada suatu titik hitam yang memisahkan garis plavon itu. Aku sadar titik itulah yang memisahkan garis tersebut, tetapi juga menyabungkannya pada garis lainnya. Aku terhenyak pada tiap titik itu, mengapa hatiku serasa kian memar? Titik-titik air mataku pun mulai menitiki sudut mataku, kubiarkan ia luruh membujuki hatiku yang mulai parah. Harus pada siapakah aku adukan tiap gelisah hatiku? Malam ini semakin memperparah memar di hatiku.

‘’Cinta kadang irasional ya?’’ gumamnya singkat.

‘’Maksudmu?!’’

‘’ seperti yang kau katakan tadi ’’

‘’Emm…Jadi kamu tetap yakin mereka mencintaiku?’’

‘’Iya…!”

‘’Artinya kamu irasional juga! ‘’

‘’Hemm, percuma memberikan pencerahan pada pihak yang tidak merasa gelap!”

‘’Erick, aku tidak ingin bertengkar denganmu!’’

‘’Aku pun begitu! Ra, sadar tidak sadar kamu terlalu berharga untuk tidak di cintai.”

‘’Aku capek menjalani kehidupan seperti ini. Andaikata kamu berada di posisiku, kupastikan kamu tak mungkin bertahan.”

‘’Seira! Aku tahu ini terlalu berat untukmu, tapi tidak seperti ini kan mengubur diri dalam keputus asaan. Aku berusaha memahamimu selama ini.”

“Lalu aku harus bagaimana?’’ tukasku dingin.

‘’Seira, ini hidup, dan kamu harus menghidupi hidupmu.”

‘’Dengan cara apa?! Kalau kamu punya yang lebih baik berikan itu padaku!’’

‘’Aku tidak punya yang lebih baik selain kamu kembali berdamai dengan orangtuamu, cobalah rendah hati pada mereka. Apapun persoalan kalian, di pihak anak, kamusemestinya mengalah. Cobalah Seira, mengalah bukan berarti kamu kalah,!

“Aku sudah terlalu mengalah selama ini, saking mengalahnya aku rela hidup jauh dari mereka, menjalani perkuliahan yang membebankanku, hanya untuk memuaskan gengsi mereka!” Kamu lupa keterbatasan fisik ini sangat menghambatiku, bagaimana aku mampu memenuhi indikator kurikulum Fakultas jika menggerakkan kelima jarikupun aku tak mampu?! Sementara itu, di pihak lain mereka terus menuntut prestasiku?!!, kadang aku berpikir, mengenalmu setidaknya bebanku lebih ringan ternyata aku keliru, kamu jauh dari yang kupikirkan. Aku menyesal…”

“Seira,  penilaianmu jauh dari yang kuduga!”

“Lalu, kamu memarahiku?!”

“Tidak! Apa gunanya aku marah padamu?!”

“Lantas, salahkah penilainku?!”

“Seira, cukup! Aku tidak suka caramu.”

“Kamu tidak suka, kenapa harus peduli padaku?!”

“Karena kamu terlalu berharga untuk diabaikan!”

“Papa dan Mama tidak mengganggapku demikian! Mengapa harus kamu yang peduli?”

“Kamu berharga dimata mereka seira!’

“ Tapi tidak dihati kan?! Erick, seberapa seberapa banyak yang kamu ketahui tentang mereka?! semua yang kamu ketahui selama ini tidaklah demikian! Itu sekedar kamuflase mereka saja Erick!”

“Sepertinya pendidikan yang kamu jalani saat ini, belum cukup membuatmu pintar. Maaf Seira, selain tidak pintar di akademik ternyata kamu juga tidak pintar memahami kenyataan hidup! Dengar Seira, orang tua bertindak seperti itu pastilah ada tujuannya.”

“Tujuannya adalah mempertahankan gengsinya kan? tentulah persepsi orang pasti lebih baik terhadap tindakan ini, “Keluarga sukses mampu mengkuliahkan anak semata wayangnya yang cacat.” begitu kan?!”

“Seira, Seira, Seira, cukup!!”

“Cukup merasa malu?!” ejekku.

“Tidak Seira, Dengar! Meraka menginginkan yang terbaik untukkmu, pahamilah itu!”

“Dengan mengabaikan aku, apakah itu keinginan yang terbaik?!”

“Apa yang kamu kehendaki dari mereka sekarang?!”

“Memahamiku, itu saja!”

“Menurutmu, apa belum cukup dewasakah kamu untuk lebih mandiri?”

“Erick hanya satu permintaanku, dan itu sekali seumur hidupku!”

“ Aku mengerti Seira, diantara kalian tidak ada yang mau mengalah, Lalu,Mau sampai kapan hubungan kalian seperti ini?! Seira, setidaknya jangan jadikan perkuliahan ini membuatmu pintar secara teoritis! ingat Seira, kepintaran tidak akan merubah dunia begitu juga orangtuamu. Harusnya perkuliahan ini membuatmu lebih bijakasana, karena dengan kebijaksanaan rasa mengahargai, memiliki, dan mencintai itu muncul. Dan, ketahuilah Seira hanya cinta dan kebijaksanaanlah yang dapat merubah dunia. Satu hal yang perlu kau ketahui seira sekalipun Papa dan Mamamu meninggalkanmu, tapi Tuhan takkan meninggalkanmu.”

Terdengar nada putus dari penelpon seberang, Aku terhenyak menyadari saat alarm jamku berdentang dua kali, kupalingkan wajah menatapi jarum jam yang menunjukkan pukul dua dini hari, Aku menghembuskan napas sekuat-kuatnya, rasanya dadaku jauh lebih ringan saat ini. Erick telah membawaku pada titik terakhir yang menghubungkan aku pada realita sesungguhnya, hingga akhirnya aku merasa jauh lebih mampu menjalani hidupku, karena Tuhan tak meninggalkanku maka akupun mampu menghidupi hidupku dengan cinta dan kebijaksanaan….

***
Felice Keraf

Iklan

Penulis: sangsepi

👉👉 Saya, secangkir kopi dan kenangan. 👈👈

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s