Menjemput Kenyataan

Aku sudah terbiasa begini
Menggelar sendiri asa tanpa harus menuntut Kau memahamiku
– Ikrarku meminangmu..

Tapi malam ini..
Biarkan kuberkemas untuk sebuah kenyataan lain.

Bukankah matahari selalu melahirkan kehidupan baru untuk sepasang mata yang belum tidur??
Dan itu berarti bahwa kaupun mestinya sadar : bahwa takdir tak ditulis untuk kemudian berlaku selamanya.

Dalam gerakku, aku menjemput takdir. Jika bukan kau, berarti pada kenyataan lain yang telah kusiapkan malam ini.

***
Catatan Sunyi

Iklan

Facebook ; Realitas Tanpa Realitas..

***
Membaca pemikiran Jean Baudrillard tentang Hyper-Realitas dan Simulacrum membawa imajinasi saya terbang hingga ke aktifitas yang satu ini yakni Facebook-an.
Facebook menjadi media yang sangat digemari oleh hampir seluruh lapisan masyarakat. Segala hal dilakukan disini, mulai dari urusan politik, ekonomi, budaya, hingga urusan asmara dan isi perut.
Berkaitan dengan apa yang di gagas Baudrillard tentang Hyper-Realitas ini, yang menarik bagi saya adalah penciptaan realitas semu oleh media seperti facebook, dimana tak ada lagi realitas sesungguhnya sebab semuanya digantikan dengan citra dan tanda.
Realitas semu atau realitas buatan yang sengaja diciptakan ini menggiring manusia abad kini hidup dalam dunia Simulacra yaitu dunia penuh citra, image, atau penanda suatu peristiwa yang menggantikan pengalaman.
Dan berkaitan dengan aktifitas Facebook, entah saya, teman-teman dan semuanya yang sering menggunakan media ini, kita sering menciptakan citra atau melakukan pencitraan.
Dan yang paling menonjol adalah apabila seseorang tersebut sudah masuk dalam kategori misalnya tokoh, entah politisi, agamawan, budayawan atau lainnya.
Ini terkait dengan setiap postingan yang dilakukan difacebook. Jika ia seorang politisi, maka yang dilakukan adalah kalau bukan mengkritisi tiap kebijakan berarti membela. Dan ini dilakukan untuk membentuk cara pandang kita (masyarakat) terhadap suatu persoalan tersebut. Padahal, bisa jadi apa yang dikatakan dalam postingan tersebut hanyalah citraan belaka.
Realitas citraan hadir dalam media massa seperti facebook ini. Yang mana tiap orang memanipulasi pembaca dengan menciptakan citra seseorang, baik itu positif maupun negatif. Tujuannya adalah membentuk sebuah kebenaran yang sesungguhnya tidak berdasarkan realitas tetapi berdasarkan citra tadi. Inilah realitas tanpa realitas, kenyataan yang bukan kenyataan karena berdasarkan simulasi.
Hyper-Realitas dalam facebook, menciptakan suatu kondisi yang kadang yang asli menyatu dengan yang palsu, fakta hampir tidak bisa dibedakan dengan rekayasa, dusta melebur dlam kebenaran.
Dan dalam facebook juga, seseorang bisa menciptakan sosok lain dari dirinya untuk kemudian membentuk cara pandang orang lain terhadap dirinya.
Dan ini yang terus terjadi saat ini.
##

Sekian dari saya..hehe..

Maaf, kalau belum lengkap uraian saya soal pemikiran J. Baudrillard dan hubungannya dengan Facebook…

Supaya Tidak Galau, Menulislah..

Menulis itu menyenangkan. Sekalipun tulisan saya tidak sebagus penulis lainnya, tapi ketika anda tidak memiliki teman untuk bisa diajak berbagi pendapat maka satu-satunya cara bagi saya adalah dengan menulis. Kenapa.. Karena menulis bagi saya rasanya seperti berdialog juga. Terkadang ketika ada persoalan yang tidak bisa dicari solusi bersama teman, saya memilih untuk menuliskannya dalam buku harian saya. Meski hanya sepenggal catatan kecil, saya merasa sedikit lega dan terbantu karena bisa mencurahkan persoalan saya sendiri dalam tulisan kecil tsb. Apalagi kalau anda pernah mengenyam pendidikan dikampus yang suasana kehidupan mahasiswanya selalu berkutat dengan diskusi. Lalu anda kembali kedaerah anda yang rata-rata pola kehidupannya sungguh berbeda dengan apa yang sering anda jalankan. Saya sendiri, ketika selesai kuliah lalu kembali kekampung, awalnya saya stress dengan lingkungan saya yang sangat-sangat berbeda dengan apa yang sering saya lakukan. Proses adaptasi yang terjadi membawa saya sering menuliskannya dalam catatan kecil saya. Karena seringnya saya menuliskan itu, lama kelamaan saya seperti terbiasa dan saya menganggap menulis itu sungguh bisa menolong saya saat saya sedang galau. Jadi teman-teman semuanya, apalagi yang sering update status di Facebook, ada baiknya menuliskan saja galau anda dalam sebuah catatan kecil lalu bacalah sendiri. Saya yakin anda pasti akan tersenyum saat membacanya dan pastinya anda akan sedikit lega. Hehehe.. Sekian..

Ada Apa Dengan Dunia Pendidikan Kita??

“Jangan Tuan terlalu percaya pada pendidikan sekolah. Seorang guru yang baik masih bisa melahirkan bandit-bandit yang sejahat-jahatnya, yang sama sekali tidak mengenal prinsip. Apalagi kalau guru itu sudah bandit pula pada dasarnya.”
– Pramoedya Ananta Toer

***
Sudah banyak orang/pakar atau apapun namanya yang mengupas perihal problem pendidikan di Negeri kita ini. Saya tak hendak merinci setiap pendapat pakar yang ada terkait persoalan ini, tapi yang saya tulis ini hanya sedikit dari yang bisa saya pahami tentang persoalan pendidikan saat ini.
Ada apa dengan sistem pendidikan kita?
Ada satu sisi yang ingin saya ketengahkan disini yaitu manusia yang lahir dari rahim pendidikan kita yang telah berjalan sekian puluhan tahun.
Ada sebuah kesimpulan sementara yang ingin saya ajukan disini bahwa berbagai persoalan bangsa yang tidak selesai-selesai diatasi adalah akibat dari pendidikan yang melahirkan manusianya. Kenapa demikian?
Bagi saya, secara kualitas manusia-manusia yang lahir dari rahim pendidikan kita sangat mumpuni. Intelektual bertebaran, pakar-pakar tumbuh seperti jamur dimana-mana, politisi, agamawan dan lain sebagainya yang mengatur negeri sangat memiliki kualitas ilmu yang mumpuni. Meski demikian, Negeri ini masih jauh dari cita-cita kemerdekaan yang pernah dicetuskan para pendiri bangsa.
Ada apa dengan sistem pendidikan kita?
Pastinya ada sebab yang melatar belakangi problem ini.
Bagi saya ada beberapa hal yang terjadi:
1. Sistem pendidikan kita lebih menitikberatkan pencapaian dalam bidang IPTEK dan mengecilkan peran pendidikan karakter.
Mengejar ketertinggalan dalam bidang IPTEK memang sesuatu yang penting; agar dimata dunia kita tidang anggap sebagai bangsa yang tertinggal dalam bidang pendidikan. Tapi mengecilkan peran karakter bagi generasi, hanya akan melahirkan calon-calon pemimpin yang berjiwa kerdil. Dan imbasnya adalah perjalanan bangsa yang nampak gagah diluar tapi didalamnya keropos.

2). Pendidikan karakter tertuang dalam beberapa mata pelajaran/mata kuliah yang saat ini kurang digemari siswa/mahasiswa. Pelajaran agama, PKN, Sejarah, merupakan beberapa jenis mata pelajaran yang seharusnya mendapat porsi yang sama besar untuk diajarkan di sekolah dengan mata pelajaran lainnya. Tapi realitas menunjukkan bahwa mata pelajaran ini tdk begitu diminati hanya karena tidak masuk dalam daftar yg di UN (ujian nasional) kan. Ini sungguh menyedihkan bagi saya.
Pencapaian ilmu tanpa pondasi akhlak hanya akan melahirkan generasi yang apatis terhadap persoalan socialnya. Jauh dari masyarakatnya, dan dalam konteks intelektual, mereka seperti hidup dimenara gading kemegahan ilmunya.

Penanaman karakter sejak dini memang bukan saja tugas institusi pendidikan. Tapi dirumah, dan lingkungan juga memang punya peran dalam membentuk karaktek generasi. Tapi jangan sampai, dunia pendidikan menjadikan alasan ini untuk menutupi perannya yang memang tidak dilakukan karena desakan kurikulum yang terjerat kepentingan pasar..

***
#Jangan sekali-kali melupakan sejarah.

Salam..

19/03/2016
Lamawulo Yani

ELEGY BUAT GRACE

Felice Keraf
***
Mata itu terlihat resah menatap trolley bag yang sedang antri pada bagage tax. Menyapu pada setiap orang yang tengah sibuk. Bersamaan itu sebuah genggaman erat terus menggenggami telapak tangannya berusaha meredam kerisauan yang tampak pada mata itu.
“Aku akan baik-baik saja nanti.” gumam Grace memecah suasana itu.
“Ya, aku tahu, tapi bagaimana denganku?Apakah menurutmu akupun akan baik-baik saja tanpamu?” suara Albert terdengar serak sembari menghempaskan napasnya yang berat menutupi risaunya.
“Aku takkan lama disana.”
“7 tahun?! Itu singkat bagimu tapi tidak bagiku. Bisa kau hitung berapa ribu hari, jam, menit bahkan detik aku tanpamu?!”
“Kita bisa saling mengabari, kan?”
“Ahh, mengapa kau selalu merasa mudah terhadap apa yang sukar bagiku?” gumam Albert kesal. Grace tertunduk lesu menyimak perkataan Albert.
Grace tegak mematung di depan gate waiting room EL-Tari Airport. Titik-titik air yang tak diundang segera membendungi matanya. “I’ll be back soon.” ucapanya nyaris tak terdengar, sontak Albert meraih dan memeluknya erat seakan tak rela membiarkan Grace melangkah lebih jauh darinya. Dikecupnya kening Grace berkali-kali dan diakhiri kecupan itu pada kelopak mata Grace yang tegah tertutup menahan bola-bola kristal yang kian deras bergulir membasahi pipi dan sweater yang dikenakan Albert. “I Love You, really… really love you.” suara Albert terdengar bergetar menahan isaknya yang hampir meledak. Terdengar kembali panggilan terakhir untuk para penumpang segera menuju kabin, cause the flight will be taking off. Segera pula Grace melepas Albert seorang diri dan menuju kabin pesawat.
Dua jam mengudara akhirnya pesawat Garudapun mendarat dengan selamat di bandara Juanda Surabaya. “God save me, Al.” gumam Grace dalam hati. Perjalanan menuju Malang cukup melelahkan Grace yang merupakan kali pertama menjejakkan kakinya di pulau Jawa. Suasana asingpun kian menambah letihnya. Tak disadari iapun kembali menangis mengingat apa yang telah terjadi padanya dua jam yang lalu. Segera Iapun mengambil ponselnya dan menghubungi Albert “I miss u, Al.” ungkapnya saat nada panggilan tersambung. Tak ada jawaban.
“Al, kau masih mendengarku?” ulang Grace.
“Ya aku mendengarmu, Jaga dirimu.” dan panggilanpun terputus. Segera SMS hadir di ponsel Grace. Sorry Rec, troubel network. Grace hanya manggut-manggut memaklumi hal itu.
Sudah seminggu Grace menjadi Siswa SMK BL masih diingatnya pengalaman pertamanya memasuki sekolah itu, diantara sekian siswa ada yang menunjukkan rasa simpatik, ada pula yang enggan merespect padanya. Mereka tak lain siswa-siswa yang terkenal rusuh. Salah satunya Rome do Carmo si hitam manis dari Negara Timor Leste. Meski nakal tetap dijuluki manis. Dia satu dari beberapa sahabatnya yang suka mengintimidasi Grace. Mulai dari menyuruh Grace mencatat, menulis contekan, PR, dan lain-lain. Entah sudah beberapa kali ulahnya membawa mereka ke ruang BP, namun itu tak membuat mereka jera.
Tak terasa 6 bulan sudah grace menjadi siswi SMK BL. Banyaknya pengalaman telah dialaminya. Namun, hal itu tak membuatnya sejenak melupakan Albert. Baginya Albert tetap menjadi sosok yang terus membayangi semua yang dilakukannya.
Dikelasnya, Grace mempunyai teman sebangku yang bernama Ari Benedict. Ari terlihat lain daripada semua teman yang ada di kelas bahkan disekolahnya. Grace baru menyadari, ternyata masih ada yang memiliki tingkah seperti Ari Benedict. Meski postur tubuhnya lebih tinggi melebihi semua warga sekolah, namun nyali Ari tidak setinggi itu. Ari terkenal pendiam bin pendiam. Ari seakan punya dunia sendiri. Ari terlihat sungguh menikmati dunianya itu. 6 bulan bersebelahan dengan Ari, Grace hanya sekali berkomunikasi dengannya. Semua itu bukan lantaran Ari mengidap gangguan organ artikulasi atau bicara. Namun Ari sungguh enggan berbicara, waktunya habis dengan komik, melukis dan merancang puri. Excellent! Grace masih ingat pertama kali Ari berbicara padanya, yaitu pada hari pertama masuk sekolah dan Rome Do Carmo beserta ganknya mengganggunya. Saat itulah Ari Benedict berbicara pada Grace. “Tidak perlu diladeni, maklum penyimpangan perilaku.” Grace yang notabenenya siswa baru hanya memakluminya. Selanjutnya, Ari seakan kehilangan selera bersuara. Meski bersebelahan, Ari terlihat masa bodoh pada Grace. Jangankan pada Grace, pelajaranpun Ari terlihat apatis. Grace tak mengerti apa sebenarnya yang ada pada kepala Ari setiap hari. Tetapi itu bukan berarti nilai ulangan Ari jelek. Nilainya tetap stabil seperti sifat diamnya, bahkan lebih baik dibandingkan Grace.
Tidak mengherankan di sekolah Ari dijuluki seniman gila, komikus tolol, dan lain sebagainya. Memang demikian adanya Ari Benedict. Tak perlu diragu setiap coretan yang dibuat Ari pasti indah. Hanya sayangnya, Ari mengabaikan suatu peraturan di sekolah yakni pada saat pelajaran berlangsung, Ari tak pernah menaruh sedikitpun minat dan perhatian pada setiap materi yang diajarkan. Dia lebih berminat pada komik yang dibawanya. Tak jarang komik tersebut menjadi barang sitaan di sekolah. Jika sudah terjadi demikian, bukan membuatnya jera melainkan seribu satu cara akan dilakukannya semisalnya dia akan menggambar tokoh komik yang disukainya kemudian membuat cerita versinya. Hal ini membuat Grace gembira meski Ia enggan bersuara namun apa yang dilakukannya dapat mewakili bentuk simpatiknya yang tersamar, dan Grace merasakan hal itu. Oleh karena itu, Grace tak jarang pula membuat catatan ringkas dan disimpannya didalam tas Ari. Harapannya Ari bisa belajar dan takkan ketinggalan materi.
Suasana kelas XII PS6 SMK BL siang itu terlihat lengang. Siswa-siswinya terlihat tegang, betapa tidak siang itu ada pelajaran Case Study. Ketegangan mereka bukan disebabkan pelajaran tersebut melainkan guru Case Studylah penyebabnya. Bapak Valentino Odiama. Guru killer yang terkenal suka menghukum siswa-siswi. Dan siang itu merupakan hari terburuk bagi siswa-siswi yang belum menyelesaikan tugas pengumpulan data lembaga pendidikan yang bermetodekan teknik studi dokumentasi. Bagi siswa yang belum mengerjakan tugas tersebut, harus siap mental untuk dihukum entah apa bentuk hukuman itu.
Sesaat semua menahan napas ketika mata Pak Valens menatap tajam satu persatu wajah siswa-siswi. “Kumpul tugas sesuai barisan, Margareth koordinir semua tugas temanmu!” suara Pak Valens datar. Serta merta Margareth sontak dari bangkunya dan bergegas mengumpulkan tugas itu dari barisan depan. “Yang belum menyelesaikan segera ke ruangan PSG!” Suara Pak Valens terdengar tajam.
Grace menoleh ke arah Ari Benedict peluh kecil terlihat dikeningnya. Ari hanya menggeleng. “Aku masih punya dua data lembaga yang tidak kukumpulkan.” sekali lagi Ari menggeleng. Melihat itu, Grace segera mengeluarkan dua file dari folder bagnya. “Maaf, yang ini belum sempat kujilid dan masih ada namaku dihalaman judulnya.” ucap Grace seraya menyodorkan dua tumpuk file yang cukup tebal itu. Ari tak bergeming menerima file itu. “Ayolah, nanti kamu dihukum.” desak Grace. Melihat sikap Ari, Gracepun segera menyambar tipe-x yang dipegang Sonia teman didepannya itu dan menghapus namanya pada file itu, serta segera merubahnya dengan nama serta nomor Ari Benedict. “selesai.” gumamnya puas. Segera ditungguinya Margareth yang masih berada beberapa barisan didepannya “kali ini, kamu takkan dihukum.” gumam Grace menatap Ari yang masih bingung melihat ulahnya.
Ari Benedict dan Grace Michelle diam tak bergeming dihadapan Pak Valentin. Sungguh Grace tak menyangka niatnya menolong Ari beberapa hari yang lalu justru mendatangkan petaka baginya dan Ari. Rupanya Pak Valens jauh lebih teliti mengoreksi tugas data lembaga itu. Hasil tipe-x yang dibuat Grace ternyata tak dapat menutupi namanya, karena ketika Pak Valens melihat sesuatu yang lain pada tugas bernamakan Ari Benedict, Iapun segera mengetahui jika ada kecurangan disana. Saat file itu dibalik dan diterawang nama Grace Michelle Veneiralah yang terbaca. Dan inilah biang petakanya. Ia dan Ari harus menjalani hukuman yang diberikan Pak Valens. Aula sekolah yang luas itu menjadi santapan siang yang paling lezat bagi Grace dan Ari.
“Maafkan aku, Ri.” suara Grace lirih sambil mengusap peluh diwajahnya.
“Tak mengapa.”
“Aku tak bermaksud membuatmu dihukum.”
“Iya.”
“Oya usai membersihkan aula, aku mau kekantin, kamu ikut ya?”
“Tak usah.”
“Jangan menolak, katakan ini sebagai permintaan maafku.”
“Kamu sudah mengatakannya berkali-kali, itu sudah cukup.”
“Tapi Ri,”
“Terima kasih kamu selalu memperhatikanku.”
“Kamu merasa begitu?”
“Sedikit.” “kalau begitu… kamu harus ikut.”
“Ini permintaan atau paksaan?”
“Permintaan, tapi karena kamu menolak aku harus memaksamu.”
“Aku tak suka dipaksa.”
“Kalau begitu kamu jangan menolaknya.”
“Hhemmm… baiklah, tapi janji cukup kali ini.”
“Iyah…” ucap Grace senang, segera Ia membereskan pekerjaan bersih membersihnya. Selanjutnya, Ia dan Ari menuju kantin dan Grace memesan soft drink dan beberapa penganan lainnya. Suasana kantin itu sepi karena semua siswa sedang mengikuti pelajaran. Tertinggal hanyalah Ari dan Grace yang karena dihukum sehingga dapat menikmati suasana kantin itu.
Sejak kejadian dihukum, Grace dan Ari semakin lebih akrab, komunikasi antara mereka sedikit lebih baik meski Ari kadang enggan bersuara juga. Entah mengapa barangkali bagi Ari itu akan menghemat sumber energinya. Namun hal itu, tidak terlalu sukar bagi seorang Grace menjadi sahabat Ari akan lebih baik daripada memaksanya menjadi seorang reporter selebritis. Dan meski Ari terkenal silent tapi sesungguhnya Ari jauh lebih peka dibandingkan teman yang lainnya. Hal tersebut sungguh dirasakan Grace.
Tak terasa ujian akhir nasional telah terlewati, hal ini berarti masa Grace menjadi siswi SMK BL akan berakhir pula. Suatu prestasi yang baik bagi Grace meraih prestasi terbaik disekolahnya. Ia lulus dengan nilai memuaskan. Hal ini pula yang mengantarnya ke negeri kangguru memperluas pengetahuannya dibidang hukum. Demikian pula Ari Benedict, Iapun akan mengikuti Ibunya kembali ke Afganistan lantaran persoalan keluarga yang tak dapat terselesaikan. Persahabatan baiknya dengan Gracepun tertinggal disekolahnya. Namun bukan berarti terlupakan begitu saja. Karena Ia dan Grace telah berjanji akan bertemu kembali suatu saat keduanya telah sukses. Ari bertekad akan mendalami seni lukis di Afganistan demikian Grace akan menjadi ahli hukum kelak.
Sebelumnya Grace tak pernah berniat kembali ke daerah asalnya. Karena keinginan orang tuanya menyekolahkan Ia di Malang. Selanjutnya, melanjutkan studi hukum di Ausie barulah Ia diperbolehkan kembali. Ini semua lantaran Grace anak semata wayang dan orang tuanya menginginkan dengan tinggal jauh dari mereka Ia dapat hidup mandiri dan ini demi kebaikan Grace kelak. Ayah Grace ialah seorang master of law dan saat ini menjadi kepala kejaksaan tinggi didaerahnya. Sedangkan Ibunya seorang pengajar sastra asing di Universitas ternama didaerahnya. Tak mengherankan Grace mewarisi sepenuhnya bakat kedua orang tuanya itu.
Dan telah setahun lamanya Grace tercatat sebagai mahasiswa hukum di Universitas ternama Sidney. Mendadak Ia diminta pulang kedaerahnya karena Kakeknya meninggal dunia. Senang dan sedih mengaduk perasaan Grace, sedih lantaran ditinggal sang Kakek yang begitu mengasihinya. Akan tetapi, ada pula rasa senang lantaran kepulangannya ini akan berarti Iapun akan bertemu dengan Albert Guardian Angelnya. Meski telah 3 tahun berpisah itu tidak berarti hubungan mereka lost. Mereka punya banyak cara ampuh mengatasi jarak itu. Dari kertas, ponsel, komputer telah menjadi media pertemuan mereka. Kabar terakhir yang diperoleh Grace ialah Albert tengah menyelesaikan skripsinya. Albert juga punya segudang prestasi dikampusnya. Dari terpilihnya sebagai BEM, motor race hingga beberapa semester sempat meraih IP terbaik. Albert ialah mahasiswa Fisip Sospol di sebuah Universitas didaerahnya. Dan saat kepulangan Grace ini sengaja dirahasiakannya pada Albert. Grace telah meminta orang tuanya untuk tidak menginformasikan hal itu pada Albert, Grace hendak membuat surprice buat Albert.
Karena terhambat jadwal penerbangan, Grace terlambat tiba dirumah Kakeknya. Pemakaman telah berlangsung sehari sebelumnya. Betapa sedih hati Grace karena tidak sempat melihat wajah terakhir sang Kakek. Grace duduk terpekur menatap pusara Kakeknya, sambil sesekali menarik napas yang berat. Sesekali pula memandangi pusara disekelilingnya. Tiba-tiba matanya tertumbuk pada sebuah nisan berwarna biru yang tegak di samping kiri terhalang dua pusara lain. Grace seakan tak percaya dengan nama yang ada pada nisan itu. Sontak Iapun berlari mendapati nisan itu. Diamatinya nisan itu untuk kesekian kalinya. “Apa yang telah terjadi?” Batinnya. Ditamparnya pipinya berkali-kali “sungguh aku tidak bermimpi!” seketika itu pula dunianya terasa berhenti, semuanya gelap rasanya Ia tengah melayang.
“Apa yang telah terjadi?” Gumam Grace pelan saat didapati dirinya tengah berbaring dan dikelilingi Ayah, Ibu serta Pamannya.
“Kamu kurang sehat, Papa membiarkanmu istirahat” jawab Ayahnya lembut. Grace mencoba mengingat apa yang telah terjadi padanya sebelumnya. Sontak Iapun bangun dari tidurnya. Ayahnya berusaha menenangkannya.
“Nisan itu, Papa apa yang terjadi?!” jerit Grace.
“Akan Papa jelaskan semuanya.” jawab Ayahnya lembut. Semuanya itu terjadi saat demonstran besar-besaran di Ibu kota Propinsi Grace tiga bulan yang lalu. Demonstrasi massa menuntut pemberhentian kepemimpinan Gubernur propinsi yang diduga mengkorupsi dana operasional daerah dan beberapa kasus pidana lainnya yang dibuat Gubernur. Saat itu organisasi yang dipimpin Albert ikut mendukung gerakan massa menggusur kepemimpinan Gubernur itu. Aksi anarkis antara massa pro dan kontra menyebabkan aparat keamanan harus turun tangan mengatasi pertikaian itu. Namun belum sempat teratasi, beberapa peluru yang diduga nyasar telah mendahului bersarang didada dan perut Albert.
Kondisi itu tak dapat menyelamatkan nyawa Albert. Sekalipun amunisi itu telah diangkat oleh tim dokter bedah. Albert hanya bertahan beberapa jam usai dibedah. Selanjutnya, Albert lebih memilih menghadap yang kuasa yang telah memberinya hidup.
Sekali lagi air mata itu mengering dikedua pipi Grace. Tak pernah terbayang Albert akan pergi secepat itu tanpa memberi pertanda sebelumnya padanya. Grace ingat tepat 3 bulan yang lalu Albert mengatakan akan sibuk mengejar skripsi. Oleh karena itu, dalam beberapa waktu komunikasi mereka break. “Tapi ini tak berarti kita break selamanya kan, Al?” gumamnya Grace sendu. “Apakah bagimu akan lebih baik kita berpisah?” Grace mencoba menahan gejolak hatinya yang nyaris hancur. “Al, ini aku… aku telah menemuimu sekarang. Aku ingin kehadiranmu bukan kepergianmu. Al kamu mendengarku, kan?” ratap Grace tiada hentinya. Hugo Lorenzo sahabat Grace dan almarhum Albert hanya terdiam sambil sesekali mengusap rambut Grace. Saat itu Ia dan Grace tengah berada di pusara Albert.
“Maafkan aku Rec, aku tak tahu bagaimana caranya agar berita itu sampai padamu. Papa dan Mamamu melarang aku berterus terang padamu saat kejadian itu”.
“Percuma Hug, toh takkan mengembalikan Albertku.” tangis Grace.
“Ikhlaskan Al pergi Rec, Al takkan damai disana jika kita terus menyesalinya, lagipula ini bukan keinginan Al, kan?”
“Aku butuh Al, kamu tak dapat mengerti perasaanku.”
“Aku sahabatmu, aku mengerti perasaanmu jauh dari yang kau ketahui.”
“Bisakah kau menghadirkan Alku sekarang?! Jawab aku, Hug!”
“Kamu sudah punya jawaban itu! Ketahui satu hal, semakin kamu merelakan Al, itu akan menunjukkan sebesar itu cintamu pada Al. Percayalah Rec, Tuhanpun peduli padamu. Dia menginginkan yang terbaik bagimu dan Al. Jadi, jangan kamu terpuruk lebih jauh dari kenyataan sekarang. Life must go on. Dia yang diatas sudah sediakan kebahagiaan lain buatmu. Percayalah pada kehendakNya.”
“Maaf Hug, aku belum siap menerimanya.”
“Aku tahu itu, aku percaya kelak waktu akan buat kamu mengerti.”
“Goodbye my angel, tunggu aku disana.” ucap Grace saat itu menyusuri koridor kabin Cathay Airlines. Grace telah kembali ke Aussie, saat ini meski tak ada lagi Al, namun Ia harus berjuang sebisa mungkin menjalani hidupnya. Grace percaya hari esok akan membawanya menemui Albert Frederick yang selalu bersemayam damai di relung hatinya. Jiwa Albert takkan pernah mati meski raganya terkubur jauh dari gapaian tangan Grace. Jiwa Albert selalu menyatu dalam diri Grace menemani Grace menggapai elegy hari esoknya.
Beberapa bulan kemudian Grace mendapat kabar dari Ari Benedict bahwa Ia akan pindah ke Aussie melanjutkan studi seni rupanya disana. Ari Benedict tetap berada dalam dunianya mungkin itu sudah menjadi karakter alamnya sebagai seniman. Dan tak diduga Grace, Hugo Lorenzo telah tiba di Sidney melanjutkan Studi Spesialis Neurology. Ini berarti Grace tak pernah sendirian. Elegy pagi ini menghantarkan Grace menemui fajar baru. Ia telah menepati janjinya, waktu takkan terlambat melunasi utang yang dipinjamnya dari Grace Michelle Veneira. Meski prosesnya itu harus diangsurnya sekalipun, ia pasti lunas!
Sebuah kecupan lembut membangunkan Grace, saat dibuka matanya, dilihatnya cahaya pagi menembus dari balik tirai yang setengah terbuka. “Hari ini jadwal chek up.” Grace mengulum senyum mengiyakan kalimat itu. Grace dan Hugo tengah menunggu kelahiran putra pertama mereka yang hendak dinamai Albert Junior.

 Love Story Never Die 