Pekat


hawkson2
Pekat

Tak ada bulan juga bintang yang tampak dilangit. Ingin rasanya melukiskan suasana ini seindah mungkin, atau semuram mungkn barangkali. Tapi sayang, saya bukan penyair yang pandai merangkai kata. Yang pintar menyusun diksi mendayu-dayu dengan lanskap seperti saat ini.
Pekat, yah pekat dilangit. Seperti kopi hitam yang pernah kau suguhkan untukku dengan aroma penuh cinta. Tapi malam ini, tak kudapati wajahmu di langit yang biasa mengukir senyum. Entah sudah berapa malam kulewati tanpa jejakmu mampir ditelinga. Hanya dentuman petasan memekakkan telinga, mengusir bisikan lembut yang kau titipkan lewat angin. Mungkin angin juga sudah gusar. Tak hendak hinggap membawa rindu. Segalanya tiba-tiba terlupakan. Hilang, mungkin melebur bersama hingarnya lalu lalang kendaraan yang tak pernah bosan mengusik hari.
” Kapan kita berjumpa lagi”?

(….. Hal. 2)

Iklan

Penulis: sangsepi

👉👉 Saya, secangkir kopi dan kenangan. 👈👈

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s