Indah

Sore yang indah di Lewoleba, Lembata
Sore yang indah di Lewoleba, Lembata
Iklan

Pekat

hawkson2
Pekat

Tak ada bulan juga bintang yang tampak dilangit. Ingin rasanya melukiskan suasana ini seindah mungkin, atau semuram mungkn barangkali. Tapi sayang, saya bukan penyair yang pandai merangkai kata. Yang pintar menyusun diksi mendayu-dayu dengan lanskap seperti saat ini.
Pekat, yah pekat dilangit. Seperti kopi hitam yang pernah kau suguhkan untukku dengan aroma penuh cinta. Tapi malam ini, tak kudapati wajahmu di langit yang biasa mengukir senyum. Entah sudah berapa malam kulewati tanpa jejakmu mampir ditelinga. Hanya dentuman petasan memekakkan telinga, mengusir bisikan lembut yang kau titipkan lewat angin. Mungkin angin juga sudah gusar. Tak hendak hinggap membawa rindu. Segalanya tiba-tiba terlupakan. Hilang, mungkin melebur bersama hingarnya lalu lalang kendaraan yang tak pernah bosan mengusik hari.
” Kapan kita berjumpa lagi”?

(….. Hal. 2)

Beri Kesempatan Jokowi untuk Membenahi, mengisi kesenjangan yang ada.

Belum sampai 100 hari kerja sejak pelantikannya, jokowi mendapat kritik pedas dari berbagai elemen. Mulai dari demonstarasi Mahasiswa, Buruh dsbnya yang memprotes kebijakan menaikkan harga BBM sebagai kebijakan yang tidak populis, hingga istilah presiden titipan Asing yang di layangkan padanya ramai di Sosial Media. Sayapun ikut terbawa arus istilah ini sampai pada tahap membenarkan. Asumsi ini memang benar adanya. Sejak runtuhnya Soekarno, Asing telah telah menancapkan kekuasaannya dalam buhul-buhul NKRI. Dan ini tidak bisa kita hindari lagi saat ini. Sampai kapanpun, Asing akan selalu berusaha untuk menguasai kita.
Dan kondisi ini bukanlah kondisi yang sengaja di buat oleh Jokowi, tapi merupakan warisan dari rezim-rezim sebelumnya yang senantiasa di pupuk lalu di tanami dan di panen begitu seterusnya.

Untuk saat sekarang, apa yang mesti kita lakukan?
Bagi saya, melakukan protes bukanlah yang terbaik. Meskipun demonstrasi merupakan sebagian dari ciri demokrasi yaitu kebebasan berpendapat. Tapi kritik yang kita layangkan tanpa solusi adalah kebutaan memaknai realitas. Ada baiknya memberi kesempatan kepada Jokowi melakukan pembenahan. Menutupi setiap kesenjangan yang ada. Toh belum genap 100 hari kerja jokowi juga.
Pilihan yang lebih sederhana adalah berusaha untuk tidak menggantungkan harapan hanya pada subsidi.
Soal BBM, keputusan menaikkan harga bukanlah keputusan yang mudah. Ibarat makan buah simalakama, tak makan mati, makan pun mati. Tapi ada sisi positifnya juga, melatih rakyat untuk lebih berhemat, tidak bergantung pada subsidi.
Kita tahu bersama pastinya bahwa anggaran untuk subsidi itu sekitar 400an M dan APBN kita itu sekitar 1000an. Jika terus menerus memberikan subsidi maka yang terjadi adalah defisit pada APBN kita. Lalu kita akan tetap berada pada kondisi yang tak pernah berubah-ubah, yakni kesenjangan sosial antara kaya dan miskin.
Jadi, bagi saya, mari kita berikan kesempatan pada Jokowi untuk memberika sumbangsih tenaga dan pikirannya bagi Negara tercinta ini. Toh jika dalam perjalanannya terjadi kekosongan ataupun berbagai upaya perubahan yang tidak terrealisasi, maka ada lembaga yang punya wewenang untuk mengusut dan menindaklanjutinya.
Mari..