Anak Bangsa Yang Pesimis


***

Tidak seperti biasanya, HARI ini kami lewati tanpa ada satupun berita politik yang kami tontoni. Segalanya tiba-tiba terasa membosankan. Politik di Negeri ini selalu saja menghadirkan sisi negatif dari tiap kandidat yang bakal maju dalam pertarungan 09 Juli mendatang meskipun ada juga sisi positifnya tapi persentasenya lebih sedikit dibanding sisi negatifnya. Seorang teman saya, Adly Jelon namanya memulai wacana pagi ini dengan sebuah kesimpulan bahwa tak ada seorangpun yang tidak tergiur dengan kekuasaan bahkan akan berusaha sekuat tenaga (menghalalkan segala cara) untuk mendapatkannya. Dalam konteks PilPres mendatang bagi sahabat saya diatas, siapa saja yang menjadi presidennya bakalan negara ini akan tetap seperti ini. sangat pesimis. Hal ini terjadi karena Kekuasaan yang begitu menggiurkan untuk di tunggangi atau juga ditunggangi yang ujung-ujungnya rakyat yg tetap melarat. 

Sikap pesimisme teman saya ini menjalari seluruh rongga pikiran saya yang selama ini jarang saya pergunakan untuk memikirkan hal-hal berat seperti diatas. pertanyaan pertama yang muncul dalam benak saya adalah kenapa Negeri yang katanya Surganya Dunia ini, yang mengandung ribuan kekayaan tapi kenapa rakyatnya malah terus melarat. Masih banyak yang mendiami kolong-kolong jembatan dengan rumah kardusnya, anak-anak jalanan yang tak jelas dimana rumahnya selain jalanan tempat mempertaruhkan masa depan yang juga tidak jelas. Semua hal ini mengepung pikiran saya.

Ada apa dengan Negeri ini?? #sambil raba kening sendiri…hehehe

Apakah orang-orang seperti itu selamanya akan tetap begitu dan ironisnya malah dijadikan seebagai komoditas politik?

Bagi saya, seluruh komponen pemangku Kebijakan Negeri ini belum bisa menjalankan amanat Undang-Undang dengan baik. buktinya pasal 29 tentang “Bumi, Air dan kekayaan yg terkandung di dalamnya di kuasai negera dan dipergunakan untuk kepentingan kesejahteraan rakyat”, tidak dijalankan dengan benar. Bukannya dikuasai oleh negara malah dikuasai oleh pihak swasta yang rata-rata adalah investor asing. Rakyat kita bukannya menjadi majikan ditanah sendiri, malah menjadi budak. Sistem perbudakan yang di ganti kemasannya. 

Saya kembali ingat, beberapa hari yang lalu waktu lagi buka om google, ada sebuah artikel yang saya baca tentang Ekonomi Ekstraktivisme dan Neokolonialisme. Adapun hal yang saya dapati dari artikel ini adalah persoalan derita Rakyat yang Eksistensinya direnggut oleh kapitalisme. Penggerak utama Ekonomi kita adalah Ekspor, dan 70% nya bahan mentah. Apa jadinya bila pasar komoditi dunia jatuh?.Disisi lain, sasaran investor asing kebanyakan pada pertambangan sebagai sumber daya alam indonesia yang mana didukung dengan regulasi serta insentif pajak dan jaminan keamanan. kita sebagai penyedia bahan mentah bagi kapitalis yang setiap saat melakukan ekspansi guna menguasai segala sumber daya kita. konsekuensi secara politik dari sistem ini adalah setiap penguasa hanya akan berfungsi sebagai pelayan bagi kepentingan perusahaan asing. sungguh menggenaskan.

Dari persoalan diatas, bagaimana caranya memobilisasi kekayaan alam kita yang banyak sekali ini untuk kepentingan kesejahteraan rakyat? Dan bagaimana peran Pemimpin (Presidennya) dalam rangka memutuskan mata rantai kapitalis yang menjerat leher anak-anak negeri ini?

Di beberapa Negera seperti Kuba, Chili dll, yang dilakukan adalah meNasionalisasikan perusahaan asing, atau meninjau kembali kontrak kerja dan menggantinya dengan kontrak kerja baru yang lebih menguntungkan negaranya. Beberapa langkah ini telah dilakukan meski resikonya harus terkena Embargo. 

Kembali ke wacana Pilpres diatas. Beranikah calon pemimpin bangsa kita meneriakkan Kapitalisme GO TO HELL seperti teriakannya soekarno?? Atau seperti pimpinan negara sosialisme seperti Castro yang terus menentang kapitalisme sebagai biang dari segala kemiskinan yang diderita masyarakat dunia? seperti Soekarno, bangsa ini tidak harus menjadi sosialis komunis untuk selalu berhadapan dengan kapitalisme. Dasar kita adalah pancasila yang sebenarnya kalau bagi saya memuat semangat Sosialisme Religius yang harus kita jadikan pedoman. 

Andai saja, langkah-langkah diatas dengan berani digunakan oleh para pemimpin kita, mungkin saja sahabat saya, adly jelon  akan berhenti membangun sikap pesimistis berkaitan dengan pembangunan bangsa ini kedepannya. mungkin juga, saya tidak ikut-ikutan dijalari semangat pesimistisnya adly yang selalu murung. Baginya, mengutip salah satu puisi yang saya lupa siapa pengarangnya, ” kata ibuku, menjadi bangsa indonesia adalah sebuah kutukan”. 

****

SEMOGA

Iklan

Penulis: sangsepi

👉👉 Saya, secangkir kopi dan kenangan. 👈👈

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s