CERMIN HATIKU

***

“Kubunuh saja dia,beres kan?!!”

Kabut senja perlahan berarak mengejar serpihan mentari di kaki langit flores. tertatih ku telusuri pijakan bayu menyeberangi prahara hatiku. Sesekali helaan nafas mengimbangi desakan yang nyaris meledak. Waktu di tangan menunjukan senja akan segera merapati malam berbingkai bintang.

“Ossa kan??”

“Hai, i..iyaa.. kamu Jozze kan?”

“Hmmm,,, iya.by the way kamu lagi liburan?”

“Iya”

“Sendirian??”

“Ada kamu kan? Hehehe iya”

“Hehe sudah malam masih betah sendirian disini?konon banyak hantu    disini,

“Lho aku kan hantu juga,so no problem hehehe, yuk pulang”

Diatas sana cakrawala kian benderang bertabur bintang. Perlahan Jozze mengikuti langkahku,sesekali Ia menyembur asap sampoernanya ke udara membaui aroma mangrove. Kami terlalu jauh untuk bersentuhan,karenanya ku biarkan suasana itu lebih mencekam. Aku cukup pengecut untuk memulai pembicaraan. Mungkin lebih baik begitu,aku terlalu takut apabila sembilu itu melukainya walau sekedar menyentuh saja.aku tak mau itu terulang lagi sekalipun ingin.(…Hal 2…)

Iklan

SKETSA CINTA YANG TERTUNDA

***

Semilir angin senja mengusap pelan dedaunan. Disudut kota yang temaram, ku merenung dalam sunyi. Terkenang kembali synopsis yang pernah terangkum dalam gita diaryku. Berbagai perikop tlah terlewati waktu yang meninggalkan cerita tanpa suara dibalik kisi‑kisi jejakku. Kulewati waktu tak bersuara ,bersama mimpi malam yang suram tersimpan serpihan hati yang luruh…

Seekor camar terbang melintasi barak senja, dibawah sinar rembulan yang belum sempurna tercatat sederet noktah dalam kamus masanya. Aku terus tenggelam dalam irama masa lalu, terpekur menatapi ruas jalan yang pernah kulalui. Disaat sang dedaunan mendesah lembut, kugenggam erat setiap lekukan jemarimu, Disana kubiarkan bara mimpiku menyatu dalam tiap helaan nafasmu, menyongsong tiap arakan awan kelabu yang terus berlari mengejar bayangan jejakku. Aku terus menahan untaian mimpi dalam asaku ‘tuk milikimu seutuhnya.meski waktu kini mulai menundanya.. …(Hal 2)…

Aku dan Tapakmu

***

Siang ini  Aku kembali melihatmu

Berjalan dan terus berjalan

Tanpa beralih Aku mengikutimu

Sejauh manakah Kau bertapak?

Penuh keyakinan Kau melangkah

Tanpa letih aku menapaki tapakmu

Berharap, aku terus berharap….

Kau kan menyadari

Ada Aku yang menemanimu

Sejenak Kau berhenti . . . .

Aku kembali berharap, Kau bias melihatku

Aku salah, bukankah ini persimpangan?

Ku tahu Kau kan menentukkan pilihanmu

Jalanmu terletak di persimpangan ini

Kau pasti kan memilih, jalan mana seharusnya

Ku ingin Kau sejenak melihat keberadaanku

Sebelum Kau kembali bertapak

Sesaat, Ku melihat Kau tercenung . . .

Apakah Kau kan berpihak padaku?

Aku yang selalu menemani tapakmu

Aku yang selalu membuntuti setiap gerakmu

Aku yang selalu dan selalu ada untukmu

Dan, Kau pun kembali bertapak

Kini, Aku mengerti, tak baik menuntut arti

Aku tetaplah Aku

Begitupun Kau, takkan merubah menjadiku

Aku sekedar bayangan semu

Dan, Kau pun berlalu dari persimpangan ini

Sejurus melalui jalan lurus

Aku harus berpijak

Pada amarah yang membakari kalbu

Aku tetap menyusuri jejakmu . . .

Untuk bayangan yang t’lah musnah

Felice keraf

 

Pergantian Pemimpin, Bisakah Persoalan Bangsa Teratasi??

Tulisan ini saya angkat dari status teman facebook saya, yang bagi saya segala kegelisaannya tentang Negeri tercinta ini patut saya coba untuk dituliskan lebih jauh. ” Apakah persoalan Bangsa ini bisa teratasi dengan pergantian pimpinan Nasional melalui PEMILU “…..??????? Kegelisaan ini mungkin menjalari hampir sebagian warga bangsa yang selama ini harap-harap cemas akan perubahan yang di impikan. Pengalaman PEMILU beberapa tahun terakhir menunjukkan sebuah realitas tentang janji. Janji yang selalu diteriakkan pada saat kampanye dan berakhir dengan tidak tuntasnya janji-janji ini di realisasikan. Akumulasi dari kekecewaan terhadap janji berdampak pada sikap pesimisme hampir semua warga bangsa ini. Beberapa orang begitu antusias mengawali setiap momen-momen demokrasi ini, sebagian lainnya begitu pesimis. “Siapapun Presidennya, semuanya akan tetap begini”, begitulah sikap pesimisme yang lahir dari pengalaman PEMILU sebelum-sebelumnya. Kemungkinan-kemungkinan asumsipun lahir dari tiap pembacaan terhadap realitas bangsa ini yang segalanya bertumpu pada dinamika politik. Politik sebagai panglima tidak lagi hadir untuk menjawab semua persoalan Nasional…. HALAMAN Berikutnya di bawah..

JKW-JK Haram bagi Umat Islam, Ada apa??

Kedunguan telah mengubah ajaran suci Tuhan melalui para nabi menjadi belenggu umat beragama. Sejarah sering menjadi saksi, kekuasaan agama dan politik sering bahu membahu untuk membuat manusia menjadi dungu agar dapat dikuasai oleh ambisi-ambisi mereka (Jiwa-Jiwa Pemberontak, Gibran)

*****

Kaget ! Ketua Forum Ulama Umat Indonesia, KH Athian Ali, Lc, Ma, mengeluarkan fatwa haram memilih Jokowi-JK sebagai presiden dan wakil presiden periode 2014-2019 karena di dukung oleh kelompok anti Islam. Sungguh ironis, agama lagi-lagi di seret kedalam wilayah abu-abu politik demi kekuasaan. Alih-alih memperjuangkan agama, malah menciderai golongan tertentu. Dimanakah esensinya Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam, yang penuh Cinta dan Kedamaian?

Forum Ulama Akhirnya Keluarkan Fatwa Haram Hukumnya Memilih Jokowi-JK. Demikian judul dari artikel yang termuat di ISLAMEDIA yang sempat saya baca. Latar belakang dikeluarkannya fatwa ini adalah berangkat dari penolakan PDIP untuk menerapkan Syariat Islam di Indonesia secara menyeluruh kecuali Aceh. Bagi PDIP sendiri, penerapan Syariat Islam adalah bertentangan dengan UUD 1945 sebagai ideologi partainya juga sebagai sumber Hukum Negeri yang telah final. Ketegasan ideologi PDIP inilah yang membuat ulama merasa bahwa PDIP memang anti dengan Islam. Disisi lain, Ulama menyerukan untuk memilih Prabowo-Hatta yang selama ini tidak menolak PERDA Syariat untuk diterapkan di Indonesia secara menyeluruh.

Dalam konteks sejarah, perjuangan untuk menerapkan Syariat Islam di Negeri ini bukan baru kali ini. Penghapusan 9 point dalam Piagam Jakarta merupakan akibat dari kompromi ideologi yang terjadi oleh beberapa pihak dan ideologi. Disatu sisi, penghapusan ini di anggap sebagai pengkhiatan terhadap perjuangan para pahlawan yang di dominasi oleh agama mayoritas. Di sisi yang lainnya, penghapusan ini dilakukan untuk meredam potensi disintegrasi bangsa pasca kemerdekaan. selain itu juga, dengan penghapusan ini ruang-ruang bagi monoritas untuk berpartisipasi dalam segala aspek diberi. Bagi saya, ini adalah demokrasi sesungguhnya yang tidak menjadikan minoritas dibawah kaki mayoritas. Klaim-klaim keberpihakan agama atau mengatas namakan agama sebagai simbol perjuangan telah lama di pahami sebagai pseudo ideologi. Agama sudah sering dimanfaatkan oleh kalangan tertentu untuk melegitimasi sebuah kekuasaan tertentu dengan dalil-dalil yang diperjual belikan. Seperti halnya Fatwa haram yang dikeluarkan FUUI dengan landasan interpretasi yang belum tentu benar berdasarkan kaidah ilmu. menurut saya, Penegasan Ideologi pancasila oleh PDIP bukan berarti anti terhadap islam. Tetapi bagaimana melihat pancasila dalam kacamata yang lebih universal dimana nilai-nilai islami sudah terkandung didalamnya.

Fatwa haram JKW-JK telah menciderai demokrasi yang selama di dibangun diatas dasar kemanusiaan. Kalaupun memang JKW-JK di dukung oleh partai anti islam, biarkan saja rakyat yang menentukan. Toh, demokrasi ini adalah representatif. Mayoritas negeri ini adalah Islam. Tapi dengan fatwa seperti ini, sama halnya dengan merendahkan manusia. Ini bukanlah islam yang sesungguhnya bagi saya. Islam tidak hadir ditengah-tengah kehidupan sosial untuk memantik permusuhan. Islam itu cintai damai, Rahmat bagi Seluruh Alam. Orientasi Politik hanya untuk kekuasaan semata pada akhirnya hanya akan melahirkan penguasa-penguasa baru yang pintar bersilat lidah di atas mimbar-mimbar rakyat, yang pandai menyembunyikan bopeng-bopeng di wajah mereka dengan topeng, serta para penguasa yang hanya pintar bersolek ria.

Pada akhirnya, kita harus kembali merenungkan kata-kata bijak dari filsuf libanon ini.

“Orang yang mendatangkan bencana bagi negerinya adalah mereka yang tidak menebar benih, tidak menyusun bata, tidak memeras anggur, tetapi menjadikan politik sebagai mata pencahariannya”.

***

SEMOGA..